Sabtu, 28 Mei 2011

Topik Mendalam: MEDITASI Pengejaran Kebahagiaan, CBC News Online

Topik Mendalam: MEDITASI Pengejaran Kebahagiaan, CBC News Online


Topik Mendalam : MEDITASI
Pengejaran Kebahagiaan
CBC News Online | April 23, 2004

Reporter: Eve Savory
Producer: Marijka Hurko
From The National



Erin Gammel adalah atlet yang pasti masuk tim renang Olimpiade Kanada. Pemegang rekor Kanada, juara gaya punggung - jika tidak terjadi sesuatu di luar dugaan, ia akan diberangkatkan ke Athena.

Tetapi empat tahun yang lalu, ia juga merupakan orang yang dipertaruhkan secara pasti untuk Olimpiade Sydney.

"Setiap orang terus memberitahu saya bahwa anda pasti bisa ikut," ia berkata. "Kita mempunyai strategi dan segalanya sempurna. Maka saya pikir inilah saatnya, saya akan menuju ke Olimpiade."

Ia bertanding di pertandingan percobaan Olimpiade di Montreal. Ia menabrak tali pemisah, kehilangan konsentrasi dan kehilangan posisinya di tim tersebut.

"Hal itu sangat mengecewakan. Saya depresi. Saya sungguh-sungguh sedih. Saya menangis dan saya tidak dapat mengendalikan diri sendiri," kata Gammel.

Erin Gammel menangis selama dua tahun. Pertolongan yang tidak pernah ia duga sama sekali sedang datang, pertolongan dari Dharamsala di India bagian utara, 5.000 kilometer jauhnya dan dari kebudayaan yang telah ada beribu-ribu tahun.

Dharamsala adalah rumah pengasingan bagi ribuan warga Tibet yang mengikuti Dalai Lama setelah China menduduki Tibet.

Umat Buddhis Tibet telah berpraktek dan memperbaiki eksplorasi mereka selama 25 abad. Selama beberapa generasi mereka menyelidiki ruang batin mereka dengan komitmen yang sama seperti ilmu pengetahuan barat mengeksplorasi dunia luar dan ruang angkasa.

Tetapi saat ini, mereka menemukan kesepakatan dalam suatu kerjasama yang luar biasa.

Pada Maret 2000, suatu grup para ahli ilmiah dan sarjana yang terpilih melakukan perjalanan ke Dharamsala. Mereka datang untuk berbagi pemahaman dan solusi - atas kesulitan dan penderitaan manusia.

Richard Davidson berada di antara mereka, seorang neuroscientist (ahli ilmiah syaraf) dari University of Wisconsin. Ia menemukan tidak ada pertentangan apapun antara agama Buddha dengan ilmu pengetahuan.



"Sikap yang ditunjukkan oleh para umat Buddha dalam menyelidiki pikiran mereka hampir seperti berhubungan dengan ilmu ilmiah," katanya. "Pikiran mereka adalah lahan untuk percobaan mereka sendiri, jika mereka menginginkannya."

Para pengunjung dari Barat telah diundang sendiri oleh Dalai Lama ke tempat tinggal pribadinya.

Selama lima hari para bhikkhu dan ahli ilmiah menganalisa apa yang mereka sebut "emosi-emosi negatif" - kesedihan, kecenderungan menjadi keirian kegelisahan/kecemasan, kemarahan - serta potensi mereka untuk menghancurkan.

Salah satu peserta, Daniel Goleman, penulis buku Destructive Emotions, berkata, "Saat kami akan meninggalkan Amerika menuju ke sini, berita utama di sana adalah seorang anak berumur enam tahun telah berkelahi dengan teman kelasnya dan pada hari berikutnya ia kembali dengan sebuah pistol dan menembak dan membunuh temannya. Hal ini sangat menyedihkan."

Mengapa para ahli ilmu pengetahuan mencari jawaban pada Buddhisme Tibet?

Karena praktek-praktek meditatifnya yang kuat kelihatannya telah memberikan para bhikkhu suatu daya lenting yang luar biasa, suatu kemampuan untuk pulih dari hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam kehidupan, dan memelihara kepuasan batiniah.

Laboratorium Richard Davidson adalah salah satu laboratorium yang termaju di dunia untuk melihat bagian dalam otak manusia yang masih hidup. Baru saja ia mendapatkan sokongan yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar 15 juta dolar Kanada antara lain untuk mempelajari apa yang terjadi di dalam otak orang yang sedang bermeditasi.

"Meditasi adalah suatu bentuk praktek yang telah ada sekitar lebih dari 2.500 tahun, yang tujuan utamanya adalah untuk memelihara kualitas-kualitas manusia yang positif, untuk meningkatkan kemajuan dan daya lenting/pulih. Maka kami pikir bahwa meditasi patut dipelajari dengan alat-alat ilmu pengetahuan ilmiah moderen," kata Davidson.

Setahun lebih kemudian pada Mei 2001, Dalai Lama membalas kunjungan ke laboratorium Davidson di Madison, Wis.

Subyek-subjek berharganya - dan teman-teman sekerjanya - adalah para lama, bhikkhu pengikut Dalai Lama.

"Kami percaya para bhikkhu adalah semacam atlet-atlet olimpiade dari latihan mental," kata Davidson. "Mereka adalah individu-individu yang telah berpraktek selama bertahun-tahun. Untuk merekrut individu-individu yang telah melakukan pelatihan pikiran lebih dari 10.000 jam bukanlah sebuah tugas yang mudah dan tidak banyak terdapat individu demikian di planet ini."

Dalai Lama pernah mengatakan jika ia tidak menjadi seorang bhikkhu, ia akan menjadi seorang insinyur teknisi.

Ia membawa kecenderungannya itu - keingintahuan dan disiplin intelektual - pada diskusi tentang EEGs dan fungsional MRI.



Tetapi hal ini sesungguhnya bukan tentang mesin-mesin.

Serta bukan mengenai Nibbana.

Hal ini tentang kehidupan sehari-hari; tentang kesulitan orang-orang biasa - serta suatu dunia yang lebih bijaksana.

"Biaya manusia dan ekonomi sangat dramatis untuk pengobatan penyakit kelainan jiwa di negara-negara industri dunia barat," kata Davidson. "Sampai pada batas bahwa pemeliharaan kebahagiaan guna menurunkan penderitaan tersebut secara mendasar sangat penting."

Bhikkhu dan ahli ilmiah sedang bersama-sama menyelidiki - Seni Kebahagiaan (The Art of Happiness).

"Daripada berpikir mengenai kualitas-kualitas seperti kebahagiaan sebagai suatu sifat," kata Davidson, "Kita seharusnya memikirkan mereka sebagai suatu keahlian, tidak jauh seperti keahlian bersepeda atau ski. Keahlian-keahlian yang dapat dilatih. Saya pikir bahwa dengan jelas kebahagiaan bukan suatu kemewahan bagi budaya kita tetapi suatu kebutuhan."

Tetapi kita percaya kita dapat membeli kebahagiaan hanya jika kita mempunyai uang. Itu adalah apa yang diberitahu oleh industri periklanan. Dan kita pikir hal itu adalah benar.

Teori-teori manusia tentang apa yang akan membuat mereka bahagia seringkali salah. Maka banyak hal di jaman sekarang menunjukkan misalnya bahwa memenangkan lotre akan secara cepat meningkatkan kebahagiaan anda tetapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan.

Terdapat beberapa bukti bahwa watak kita kurang lebih dibentuk dari lahir. Maka orang tertentu berwatak murung, yang lainnya berwatak periang - hal yang seperti demikian.

Walaupun pada saat hal-hal menyenangkan atau tidak menyenangkan terjadi, kebanyakan dari kita akhirnya akan kembali ke arah ciri emosional tersebut.

Tetapi Davidson percaya bahwa arah karakter tersebut dapat diubah.

"Pekerjaan kami secara mendasar berfokus pada mekanisme-mekanisme otak apa yang menyebabkan kualitas-kualitas yang berhubungan dengan emosi ini dan bagaimana mekanisme-mekanisme otak ini dapat berubah karena hasil dari latihan tertentu," kata Davidson.

Pekerjaan ini tidak dapat dilakukan 20 tahun yang lalu. "Kenyataannya 20 tahun yang lalu kita telah mempunyai angan-angan tentang metode-metode yang anda pergunakan untuk menginterogasi otak dengan cara ini, tetapi kita tidak mempunyai alat untuk mengerjakan hal ini."

Sekarang kita telah mempunyai alat sehingga kita dapat melihat bahwa pada saat emosi-emosi kita surut dan mengalir, begitu juga yang terjadi dengan kimia otak dan aliran darah. Ketakutan, depresi, cinta kasih, mereka semua bekerja pada bagian-bagian yang berbeda dari otak kita.

Kebahagiaan dan semangat tinggi, serta kegembiraan - mereka muncul saat aktivitas pada bagian kiri otak dekat korteks depan meningkat. Kegelisahan, kesedihan - ada pada otak bagian kanan.

Davidson telah menemukan pola ini terjadi pada bayi-bayi berumur 10 bulan, pada para balita, anak-anak belasan tahun dan orang-orang dewasa.

Davidson menguji lebih dari 150 orang biasa guna melihat bagian-bagian mana dari otak mereka yang paling aktif.



Beberapa lebih aktif di bagian kiri. Beberapa lebih aktif di bagian kanan.

Beberapa aktif di bagian otak kanan yang agak jauh. Mereka mungkin yang disebut tertekan. Yang lainnya kecenderungan otaknya cukup jauh ke kiri, orang semacam ini merasa "hidup adalah menyenangkan."



Jadi terjadi pada suatu area tertentu. Selanjutnya Davidson menguji seorang bhikkhu.

Bhikkhu tersebut otaknya begitu jauh ke kiri, ia tidak pada garis. Ia merupakam seorang bhikkhu yang berbahagia.

"Dan hal ini adalah bukti yang agak dramatis bahwa ada sesuatu yang sungguh-sungguh berbeda pada otaknya dibandingkan dengan otak-otak 150 orang lainnya. Ini adalah bukti yang menggiurkan bahwa praktek-praktek meditasi ini sungguh dapat meningkatkan perubahan-perubahan yang berguna bagi otak."

Di sini para atlet olimpiade meditasi bertemu dengan para pemuka pembaca radar.

Khachab Rinpoche, seorang bhikkhu dari Asia, datang ke Madison untuk bermeditasi di tempat yang mungkin paling aneh dalam hidupnya: tempat penelitian MRI fungsional.

Dia mengijinkan para ahli ilmiah melihat apa yang terjadi pada otaknya saat ia mengalihkan perhatian antara jenis-jenis meditasi yang berbeda.

Mereka ingin mengetahui bagaimana otaknya berbeda dengan orang-orang biasa, dan apakah perubahan tersebut berhubungan dengan kepuasan batiniah yang dilaporkan para bhikkhu.

Maka mereka menguji bagaimana para subyek bereaksi pada suara-suara yang tidak menyenangkan dan bayangan-bayangan yang tiba-tiba melintas pada kacamata-kacamata besar yang mereka pakai dalam MRI.

Biasanya saat kita terancam, salah satu bagian otak menjadi aktif secara luar biasa, tetapi yang terjadi pada para bhikkhu, "Tanggapan terhadap ransangan-rangsangan kuat pada indra pendengar akan menimbulkan emosi-emosi kuat, dan reaksi dari daerah ini khususnya berkurang pada saat meditasi," kata Davidson.

Ini adalah hasil yang sangat awal, tetapi implikasi yang mengejutkan kita semua barangkali adalah para lama dapat bertindak melampaui kejadian-kejadian yang menegangkan - dengan kata lain, salah satu kunci menuju kebahagiaan mereka.

Ini dapat memberitahu kita sesuatu tentang potensi kita. "Otak kita dapat beradaptasi, otak kita tidak tetap. Ikatan dalam otak kita tidak ditetapkan. Siapa kita hari ini tidak selalu akan menjadikan kita manusia akhir yang ditentukan," kata Davidson.

Buddhisme Tibet dikatakan sebagai salah satu yang memerlukan usaha-usaha mental yang paling keras di planet ini. Memerlukan 10.000 jam meditasi dan waktu bertahun-tahun dalam pengasingan diri untuk menjadi mahir. Hanya sedikit dari kita yang dapat membayangkan komitmen demikian.

Tetapi itu tidak berarti keuntungan-keuntungan meditasi tidak dapat kita jangkau.

Zindal Segal adalah seorang ahli psikologi di Centre for Addiction and Mental Health (Pusat untuk kecanduan dan kesehatan mental) di Toronto. Ia memakai meditasi untuk menangani ketidakteraturan suasana hati.

Pengobatan tersebut berdasarkan ajaran-ajaran Buddhist dan dinamakan kewaspadaan.


Michael Herman, rekan senior di perusahaan hukum Goodman and Goodman, beliau melakukan meditasi di kantornya.

"Sangat sedikit dari kita dapat duduk selama 10.000 jam, tetapi hal yang menarik adalah kita tidak perlu melaksanakan (duduk selama 10.000 jam) untuk dapat melatih kewaspadaan. Kapasitas-kapasitas tersebut tersedia pada kita semua," kata Segal. "Kita membicarakan tentang perhatian, kita membicarakan tentang mengembalikan pikiran kita ke saat ini. Kita semua mempunyai kemampuan ini. Kita tidak harus meraihnya, kita hanya harus mencari suatu cara menyingkirkan keketidakteraturan guna melihat bahwa kemampuan tersebut memang sudah ada di sana."

Meditasi saat ini telah keluar dari tempat persembunyiannya. Diberitakan bahwa meditasi mengurangi stres, menurunkan tekanan darah, membantu meletakkan hari buruk di kantor dalam perspektif.

Meditasi dijadikan sesuatu yang penting oleh masyarakat utama, dari para pejabat perusahaan sampai ke tingkat-tingkat buruh.

Saat ini jika kita menemukan rumah-rumah sakit seperti St. Joseph di Toronto menawarkan program-program meditasi adalah merupakan hal yang biasa. Sebanyak 360 orang mengambil kursus selama delapan minggu setiap tahun.

Kebanyakan program telah mengambil sistem yang paling mudah dari ajaran Buddhis dan mengadaptasikannya dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk.



"Meditasi adalah suatu keahlian yang dapat dipelajari, dan seperti keahlian apapun, meditasi perlu dilatih. Maka kita memakai pernafasan sebagai langkah awal kita mulai berlatih, tetapi pada akhirnya kita ingin dapat memakai kesadaran akan pernafasan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari," kata Segal.

"Saat kita mempunyai kemampuan untuk melakukannya, maka selanjutnya kita dapat memakai pernafasan saat kita berbaris di bank, atau jika kita sedang bertengkar dengan pasangan, sebagai cara memusatkan kita pada diri sendiri ketika tengah berada pada situasi yang menganggu."

Sesuatu yang menganggu seperti bayangan pikiran yang tidak dapat dihindari oleh Erin Gammel: di hari saat ia gagal memasuki tim olimpiade.

"Saya hanya ingat bahwa tangan saya menyangkut tali pemisah dan saya berpikir semuanya berakhir," kata Gammel.

Ia kehilangan fokusnya, kehilangan posisinya di tim, dan kehilangan semangatnya untuk berenang.

"Hal itu mempengaruhi seluruh hidup saya. Saya menangisi hal yang kecil. Saya tidak maju dan kelihatannya tidak ada hal apapun yang sungguh-sungguh maju. Dan saya merasa gagal dalam setiap hal yang saya lakukan," katanya. "Itu adalah bagian dari depresi dan kesedihan karena pada waktu itu saya merasa gagal. Tidak ada sesuatu pun yang berjalan dengan baik."



Hingga ia berhubungan dengan ahli psikologi olahraga tim renang nasional bernama Hap Davis. Davis kagum oleh hasil karya ahli ilmu ilmiah Richard Davidson.

Ia mempunyai dugaan bahwa mengingat kembali pengalaman yang menyedihkan tersebut menekan otak bagian kiri Erin, bagian yang sangat aktif pada orang-orang bahagia dalam penemuan Davidson.

Ia memikirkan suatu perencanaan bantuan - meditasi pernafasan yang harus Erin lakukan sebelum dan sesudah menonton video secara berulang.

"Jika seseorang dapat memusatkan pikiran pada diri mereka sendiri dan merasa berpusat pada meditasi pernafasan, mereka dapat mencapai titik dimana mereka dapat melihat dan memandang suatu kejadian dengan pikiran yang kritis, dengan pikiran yang terbuka pada apa yang dialami dan melihat apa yang terjadi dengan obyektif," kata Davis.

"Anda mengetahui apa yang dirasakan pada saat pertandingan. Rasanya seperti saya benar-benar berhenti dan mati. Tetapi dalam rekaman video yang kemudian saya tonton hanya kelihatan seperti suatu gangguan kecil. Hal itu tidak berarti lagi."

Telah lebih dari dua tahun sejak mereka memerlukan mempelajari rekaman tersebut - karena meditasi tersebut berhasil. Kesenangan Erin akan renang telah kembali; ia memenangkan pertandingan berkali-kali.

"Secara emosional, ia menjadi lebih tahan banting. Secara emosional ia lebih stabil, dalam hal prestasi ia lebih konsisten," kata Davis.

"Meditasi tidak harus tentang kebahagiaan tetapi dapat membuat anda menjadi lebih bahagia. Saya kira itu yang dapat anda katakan tentang meditasi. Dan saya merasa lebih percaya diri. Saya tahu bagaimana melakukan dan menyelesaikan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup saya," kata Gammel.

Terdapat satu pertandingan lagi yang harus dimenangkan - latihan-latihan agar masuk tim menuju Athena.

"Ini adalah tahunku. Itu yang terus saya katakan pada setiap orang. Ini adalah tahunku untuk masuk ke tim Olimpiade karena setelah melalui semuanya ini, saya tahu itulah yang akan terjadi," katanya.

"Meditasi telah ada selama 2.500 tahun, maka hal ini bukan seperti praktek baru," kata Davis. "Tetapi ilmu pengetahuan ilmiah sedang mengejar tradisi tua tersebut dan bukti-bukti menjadi jelas bahwa meditasi dapat merubah sistim kimia otak atau aliran darah di otak."

Dan sekarang terdapat bukti bahwa meditasi dapat merubah otak orang-orang pada umumnya dan membuat mereka lebih sehat.

Promega adalah sebuah perusahaan biotehnologi di Madison, Wis., dimana para peneliti dari Brain Imaging Lab (Laboratorium Bayangan Otak) merekrut para pekerja yang tertekan - staf kantor, para manager, bahkan ahli penelitian ilmiah yang ragu bernama Mike Slater.

"Semuanya serba kacau dan gila. Kami mempunyai seorang yang baru dilahirkan. Kami mengalami tiga kematian dalam satu keluarga. Maka saat ini adalah waktu yang sangat sibuk," kata Slater.

Semua aktivitas dalam otak subyek diukur - termasuk Mike Slater - dan diberi delapan minggu kursus meditasi.

Selanjutnya setiap orang - para meditator dan pengontrol - mendapatkan suntikan flu, dan otak mereka diukur kedua kalinya.

Aktivitas otak para meditator telah berubah ke bagian kiri yang bahagia. Mike Slater bahkan hampir terlalu berhasil.



"Saya cukup bahagia setiap saat dan saya khawatir mungkin saya menyembunyikan beberapa hal yang mungkin sungguh-sungguh menjengkelkan saya, maka saya menghentikannya dan istri saya memperhatikan terdapat peningkatan dalam kejengkelan saya, maka perlu anda ketahui saya sekarang telah mempunyai dua sisi pengalaman. Meditasi menenangkan saya dan saya berhenti melakukannya dan meningkatkan kejengkelan saya," kata Slater.

Tidak hanya itu, sistim kekebalan tubuh mereka meningkat.

"Para individu dalam grup meditasi yang menunjukkan perubahan terbesar dalam aktivitas otak juga menunjukkan perubahan terbesar dalam fungsi kekebalan tubuh, ini menunjukkan bahwa semuanya berhubungan erat," kata Davidson.

Davidson dan timnya telah menunjukkan meditasi tidak hanya dapat mengubah suasana hati - tetapi juga aktivitas otak dan kekebalan tubuh orang-orang pada umumnya.

Dan mereka telah menjawab suatu kekurangan yang mungkin terjadi dalam studi terhadap para bhikkhu.

"Seseorang mungkin berkata individu-individu ini memang awalnya demikian. Mungkin hal itu yang menyebabkan mengapa mereka tertarik untuk menjadi bhikkhu," kata Davidson. "Maka kita sebenarnya tidak dapat menjawab berdasar data tersebut, tetapi dengan studi Promega, kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa hal itu pasti berhubungan dengan campur tangan yang telah kita sediakan."

Terdapat alasan-alasan untuk percaya bahwa langkah tidak wajar dan banyaknya gangguan dalam kehidupan sehari-hari dapat membahayakan kesehatan pikiran dan tubuh kita.

Kita tidak dapat memencet tombol penundaan pada dunia yang sibuk dan kita tidak dapat keluar darinya.

Tetapi mungkin meditasi adalah suatu cara untuk mendorong sebuah perasaan kesejahteraan - sebuah nafas yang dalam di tengah angin kencang.

"Seperti yang dikatakan sendiri oleh Dalai Lama dalam bukunya The Art of Happiness (Seni Kebahagiaan), kita mempunyai kemampuan untuk merubah diri kita sendiri karena memang sifat, struktur dan fungsi dari otak kita," kata Davidson. "Dan itu adalah pesan yang penuh harapan karena saya pikir hal itu menanamkan keyakinan manusia bahwa terdapat hal-hal yang dapat mereka lakukan untuk membuat mereka sendiri lebih baik."

Sumber : http://www.cbc.ca/news/background/meditation/
Penerjemah : Jenny H., Surabaya

Dikutip dari:http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=776&multi=T&hal=0

Jumat, 27 Mei 2011

Jutawan Menjadi Bhikkhu

Jutawan Menjadi Bhikkhu


Mengapa seorang playboy yang mencintai olahraga croquet melepaskan segalanya untuk mencari penerangan.


Agustus 2001, Daily Telegraph, Australia
Oleh STAVRO SOFIOS

Sebulan yang lalu Jose Sanz memiliki satu juta dollar rumah mewah besar dan tiga kekayaan eksklusif lainnya, menghibur kaum elit Sidney dan pewaris sejuta dollar dinasti tembakau.

Saat ini, mantan dokter ahli kandungan Sidney dan dosen universitas akan bangun pada jam 5:30 pagi dan memakai satu-satunya pakaian yang ia miliki - satu set empat potong jubah berwarna coklat dan oranye, kekayaan terakhir yang dimilikinya.

Dr. Sanz - sekarang dikenal sebagai Venerable Yanatharo - telah menyumbangkan harta pribadinya yang lebih dari $ 5 juta demi suatu usaha mencari keharmonian spiritual sebagai seorang Bhikkhu di sebuah vihara di bagian barat Sidney. Dokter yang dihormati, juara olahraga croquet dan pendiri the Double Bay Bridge Club sekarang setiap hari menghabiskan 12 jam bermeditasi dan berdoa di vihara Wat Phrayorthkeo Laotian di Edensor Park.

Kehidupan barunya juga mengajaknya bekerja dengan remaja yang kurang mampu di Cabramatta dan para tawanan penjara yang dibebaskan siang hari. Kekayaan pribadi bhikkhu tersebut - lebih dari $ 5 juta dalam bentuk rumah-rumah, mobil-mobil dan tunai - diberikan kepada anak-anaknya, yang menurutnya marah atas keputusannya (menjadi bhikkhu) ini. Dr. Sanz, 55 tahun, juga memberikan harta sejuta dollarnya kepada saudara perempuannya - satu perkebunan tembakau 3000 hektar di Argentina yang telah menjadi milik keluarganya sejak tahun 1580.

Ia berkata "Saya sama sekali tidak mempunyai ide (jumlah kekayaan sesungguhnya) dan saya tidak peduli". "Kita hidup bersusah payah demi rumah, mobil, uang. Saya hendak menjauhi semuanya ini. Saya keluar dari rumah dan memberikan kuncinya kepada anak-anak saya. Mereka adalah umat Katolik Roman yang setia dan mereka berpikiran bahwa saya telah dibawa oleh suatu pengikut (aliran tertentu)." Umat Buddha yang taat selama 15 tahun ini diperbolehkan menjadi seorang bhikkhu dengan tradisi Laos setelah membuktikan bahwa ia tidak mempunyai hutang-hutang dan kewajiban-kewajiban terhadap orang-orang lain setelah kematian istrinya 18 bulan yang lalu.

"Saya merindukan minum bir bersama teman-teman setelah berolah raga," Saya merindukan pergi ke kedai minuman dan berjumpa dengan gadis-gadis. Saya melepaskan empat bulldog kesayangan saya - karena saya tidak diperbolehkan memelihara mereka. Kita harus tidak melekat sama sekali, tetapi saya masih merindukan anjing-anjing saya, mobil saya - tetapi tidak keluarga saya."

Sekretaris Cammeray Croquet Club, Mila Kotala berkata bahwa Dr. Sanz meninggalkan karir olah raga yang sedang menanjak, "Olah raga croquetnya sangat dikagumi di NSW."Ia sangat ramah, jejaka yang sangat gembira." Kehidupan Dr Sanz melibatkan pelajaran harian tentang cerita-cerita yang berisi ajaran Buddhist dan meditasi berjam-jam. Filsafat Buddhist membolehkan sedikit ruang untuk teknologi baru: Dr. Sanz tidak dapat melihat TV tetapi ia dapat belajar dengan para pemimpin di Laos melalui Internet.

"Saya berusaha berkonsentrasi tetapi pikiran saya pergi kemana-mana. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, masa depan tidak menentu maka kita hidup di saat ini. Kita berusaha sebaik mungkin, kita berusaha menambah karma baik."


Catatan : croquet - permainan yang mendorong bola kayu ke dalam gawang di lapangan.
Kontak Email : sanz@northnet.com.au


Sumber : Majalah Eastern Horizon, Malaysia, Edisi Jan - Apr 2002 Hal. 12
Penerjemah : Jenny, Sby

Sumber: http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=166&multi=T&hal=0

Kamis, 26 Mei 2011

Meninggalkan Dhamma = Meninggalkan Kebahagiaan Sendiri

Meninggalkan Dhamma = Meninggalkan Kebahagiaan Sendiri




Meninggalkan Dhamma = Meninggalkan Kebahagiaan Sendiri
Oleh: Irwan Sutejo

Pertama-tama perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Irwan Sutejo dengan nama Buddhis saya Indavadi. Nama Buddhis saya merupakan hasil pemberian Bhante Vijito pada hari raya Waisak tahun 2002.

Terlahir di kota Medan , saya seperti orang-orang keturunan Tionghoa sebelumnya yakni merupakan penganut Agama Buddha tradisi, atau yang lebih dikenal sebagai Agama Buddha KTP. Sejak kecil saya selalu dididik oleh kedua orang tua saya mengenai cara-cara menjalankan tradisi sembahyang dan sebagainya. Agama Buddha KTP yang dimaksud adalah saya masih menjalankan ritual bakar uang-uangan kertas, masih mengambil jimat dikelenteng, dll. Hal tersebut berlangsung terus menerus, bahkan ketika saya sudah menginjak kursi sekolah, pembelajaran mengenai Agama Buddha di sekolah tidak menarik minat saya. Tidak dipungkiri Agama Buddha yang diajarkan saya tidak pernah mencoba mengerti maupun mendalaminya. Hal tersebut sangat mungkin berkaitan dengan kamma saya yang mungkin belum berbuah, sehingga pada saat SD saya benar-benar sangat buta akan Agama Buddha. Satu hal yang membuat saya tahu adalah “dosa”. Banyak sekali cerita maupun terror berupa dosa akan hal buruk yang jika kita perbuat dan juga keyakinan tradisi lainnya.

Meski masa kecil saya tidak berupa sosok yang jahat, tapi yang pasti saya bukanlah sosok yang kenal maupun familiar dengan Agama Buddha. Hal tersebut berlangsung hingga SMP di mana saya semakin menjadi-jadi. Saya diajar oleh seorang guru agama yang sudah mempunyai reputasi buruk di sekolah dan tidak memberikan apa-apa bagi batin saya. Masa SMP adalah masa-masa di mana saya semakin jauh dari yang namanya “Buddha”. Tidak ada agama dalam hidup, meski sekali lagi saya bukanlah sosok yang jahat, cuma ketidaktahuan saya telah membuat saya menjadi buta segalanya. Keadaan mulai berubah saat saya memasuki kursi SMA, saya bertemu seorang guru Agama Buddha aliran Theravada. Tidak tahu apa yang terjadi tapi saya menjadi benar-benar tertarik dengan penjelasan beliau yang bisa diterima dengan akal maupun logika (sejak SD sampai SMP saya diajar oleh guru dengan basic bukan Theravada).

Saya mengenal beliau dengan baik, hal tersebut berimbas pada pengetahuan saya mengenai Agama Buddha. Saya mulai merasakan kesejukkan mengenai Agama Buddha, hingga akhirnya saya bersedia divisudhi untuk pertama kalinya. Saat itu merupakan saat yang paling berbahagia dalam hidup saya, di mana saya mulai merasakan kedamaian akibat ajaran Agama Buddha. Saya bangga akan perbuatan saya baik buruk atau baik, saya berani untuk menerima akibatnya. Saya merasa sebagai sosok yang tidak mencoba mencari perlindungan selain pada perbuatan saya sendiri. Hal tersebut berlanjut hingga saya bersedia mengabdikan diri untuk menjadi pengurus satu-satunya Vihara Theravada di kota Medan yakni: Vihara Mahasampatti. Saya bekerja tanpa pamrih dengan tujuan memajukan Agama Buddha. Akibat dari tekad saya tidak jarang orang tersinggung oleh tindakan saya, tapi tidak pernah saya pedulikan.

Ketika saya mencoba membunuh suatu makhluk hidup saya mulai berpikir akan kondisi yang sama jika terjadi pada diri kita. Ketika saya melihat bunga mekar, batin saya mulai berkata pada saya apa yang diperbuat itulah yang dipetik. Ketenangan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Damai yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya menjadikan saya tidak lagi merasakan ketakutan maupun kegelisahan apapun. Betapapun saya pernah mengagungkan kekerasan tetapi sekarang saya mulai merasa dengan menyakiti orang lain sesungguhnya kita menyakiti diri kita sendiri. Saya mulai berpikir mengenai kondisi tidak kekal, penderitaan, dan tidak adanya ego. Saya tidak terhipnotis dan tidak terbuai oleh yang namanya surga, tetapi semua perbuatan saya lakukan semata-mata untuk kebahagiaan semua makhluk yang ada.

Namun hal tersebut tidak bertahan lama, ketika saya pindah ke Jakarta untuk keperluan pendidikan, perlahan tapi pasti saya mulai berubah kembali. Buddha mulai pudar meski kedamaian yang pernah ada masih berbekas. Syukur pada semuanya ketika kondisi mulai memburuk saya dipinjamkan suatu VCD oleh teman saya yang berjudul Angulimalla. Satu ucapan dari Sang Buddha membuat saya kembali hingga saat ini yakni “Berhenti”. Saya begitu terhanyut ketika Beliau menyatakan ucapan dan kalimat lanjutannya. Saya sadar bahwa saya juga harus “Berhenti”. Akibat dari hal tersebut Agama Buddha tidak pernah dan tidak bakal saya tinggalkan lagi pada kehidupan saya selanjutnya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah berangkat dari agama tradisi, saya kemudian mencoba mencari tahu mengenai Agama Buddha secara sendirian (Ehipassiko), hingga kini saya menjadi sosok yang bahagia karena Dhamma.

Saya tahu banyak pribadi yang mengalami masalah seperti saya, dan juga banyak sekali yang berpindah agama karena hal tertentu. Di sini saya hanya mencoba menyampaikan satu hal yakni cobalah untuk mendekati Sang Buddha dan ajaranNya. Jangan pernah meninggalkan ajaran kesunyataan tersebut karena dengan melakukan hal tersebut kita telah meninggalkan kebahagiaan kita sendiri. Saya bukan sosok yang bisa menghafal semua paritta dan mengerti semua ajaran Dhamma, tapi untuk semua pribadi saya sarankan berpijaklah pada empat pernyataan Sang Buddha yakni:

janganlah berbuat kejahatan,
tambahkanlah kebajikan,
sucikan hati dan pikiran,
inilah inti ajaran para Buddha.

Mungkin cerita saya jauh dari kesan magic. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa semua orang bisa seperti saya apabila mereka berusaha mendekati Buddha dan ajaranNya. Bukalah pintu hati dan pikiran untuk mencoba mencari kebahagiaan dalam ajaranNya, niscaya batin dan kepercayaan tidak akan tergoyahkan.

Semoga cerita saya menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mengalami kesulitan mengenal Agama Buddha dan sedang tergoyahkan batin maupun kepercayaannya. Tidak ada unsur kepalsuan dalam cerita ini dan semuanya berdasarkan pengalaman nyata saya.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Rabu, 25 Mei 2011

PLR, Melongok Masa Silam Demi Kesembuhan

PLR, Melongok Masa Silam Demi Kesembuhan



PLR, Melongok Masa Silam Demi Kesembuhan

Jakarta, Kompas, Jumat, 16 Sept. 2005



Orang hidup selalu punya masalah, so pasti. Namun, kalau berbagai upaya memecahkannya sudah dilakoni, tapi hasilnya selalu mentok, siapa tahu ada sesuatu di masa lalu yang mengakibatkan kesengsaraan di masa kini .




Salah satu jalan keluarnya, tengoklah “ke masa silam” melalui terapi past life regression (PLR).

Anto tak habis pikir, mengapa belakangan ini ia punya dorongan sangat kuat untuk menyelingkuhi sahabat istrinya. Padahal, hubungan dengan Nita, sang istri, baik-baik saja. Tidak ada masalah serius. Hal itu jelas menimbulkan konflik dalam dirinya. Ia sangat berharap ada jawaban atas masalah yang cukup mengganggu itu.

Ati dan Bimo - seorang ibu dan anak - entah mengapa selalu saja bertengkar. Sulit bagi Bimo menjadi anak penurut di mata ibunya.

Aldo mengaku tak pernah mampu melakukan hubungan suami-istri sepanjang perkawinannya. Lalu Beni punya penyakit aneh, karena di malam hari ia sering terbangun hanya karena merasa tenggorokannya kemasukan air.

Ima, seorang guru sekolah internasional di Jakarta, pun mengeluh tentang muridnya yang super-bandel, selalu saja membangkang. “Anak ajaib” itu diyakini punya hubungan emosional dengan kehidupan Ima di masa lalu.

Masih ada ribuan kisah lain yang menyimpan masalah yang tak kunjung terpecahkan. Sering jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu justru ditemukan setelah menengok kembali kehidupan di masa lalu. Itulah inti pendekatan terapi past life regression (PLR).


Rekaman tertinggal
PLR sejatinya teknik bagi seorang psikolog atau praktisi past life untuk menuntun seseorang pada kehidupannya surut ke belakang, jauh sebelum ia dilahirkan.


Tujuannya untuk membantu seseorang mengatasi masalah, trauma, penyakit psikosomatis, dan sebagainya.

Anto misalnya, sempat melihat kehidupan masa lalunya sebagai pendeta Buddha yang tidak menikah. Ketika hendak meninggal, dia dirawat oleh keponakannya, yang dalam kehidupan kini “menjelma” jadi anak perempuannya. Anto juga melihat dirinya berada dalam kehidupan pernikahan, saat ia melihat istrinya di zaman baheula, ternyata sahabat istrinya kini. Tak heran kalau Anto lalu tertarik untuk berselingkuh.

Sedangkan Ati dan Bimo, di kehidupan lalu keduanya ternyata sama-sama pria dewasa yang pernah terlibat pertengkaran hebat. Ati bahkan sampai membunuh Bimo. Tak heran bila dalam kehidupan mereka saat ini, keduanya bagai minyak dan air, tak pernah bisa menyatu.

Lalu Beni, dalam kehidupan masa lalunya adalah anggota kelompok pemberontak terhadap pemuka agama yang dogmatis di abad pertengahan. Sebagai hukuman, ia ditenggelamkan di laut. Setelah menyadari masa lalunya, secara perlahan gangguan Aldo lenyap. Ia tak pernah terbangun lagi di malam hari. Yang menarik, Aldo ternyata seorang biarawan Katolik di Italia pada abad ke-17. Lewat terapi, ia menyadari bahwa kini ia bukan lagi biarawan. Ia orang biasa yang boleh melakukan hubungan seksual sebagaimana orang biasa.

Begitu pula Ima, dalam kehidupan masa silamnya ia pernah menyeleweng dan meninggalkan suami serta anaknya. Anak itulah yang kini jadi muridnya. “Setelah tahu, kini saya selalu menyiapkan diri agar lebih sabar menghadapi murid saya yang satu ini,” aku Ima.


Evolusi jiwa
Dua praktisi yang bermukim di Jakarta, Pamugari Widyastuti, S.Psi. dan Sumarsono Wuryadi, mengakui manjurnya terapi kembali ke masa lalu ini.


Namun, jangan salah tafsir. Terapi ini bukan untuk main-main, misalnya iseng hanya untuk melihat siapa diri kita di masa lalu, tanpa ada manfaat yang bisa dipetik.

PLR bertujuan menolong seseorang ketika masalahnya menemui jalan buntu. Hal yang sama dilakukan untuk penyembuhan penyakit. Seperti Ana yang sudah bolak-balik ke dokter untuk mengobati sakit perutnya yang tak kunjung sembuh. Ketika terapi lain dan pengobatan medis tak jua menyembuhkan, dia mencoba terapi PLR.

“PLR merupakan terapi terakhir yang harus saya ambil bila klien saya tak kunjung sembuh,” ujar Reza Gunawan, praktisi self healing dari Klinik True Nature Healing. Di luar negeri, PLR cukup akrab di kalangan dunia kedokteran. Begitu tenaga medis angkat tangan terhadap kesembuhan pasiennya, mereka segera merekomendasikannya menjalani terapi PLR.

Namun, di Indonesia PLR baru hadir dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa tempat yang aktif memperkenalkannya antara lain Yayasan Sanjiwani dan Yayasan Anggrek. “lni awal yang baik, karena ternyata PLR bisa diterima sebagai terapi,” aku Sumarsono yang berpraktik di Klinik Seroja dan Klinik Sanjiwani, Jakarta.

Menurut Sumarsono, terapi PLR dapat digunakan untuk menghilangkan berbagai trauma kejiwaan dan penyakit psikosomatis. Di samping itu, juga bisa membantu seseorang menjadi lebih percaya diri.

Untuk dapat memahami terapi PLR, mau tidak mau kita harus juga memahami perihal reinkarnasi lebih dulu. Termasuk di dalamnya hukum sebab-akibat (karma). Diyakini bahwa jiwa (roh) kita itu kekal adanya. Ketika orang meninggal dunia, sebetulnya hanya jasadnya yang mati. Jiwanya tetap hidup dengan “pakaian” dan peran yang berbeda.

Namun, memori akan kehidupan masa terdahulu masih melekat dalam jiwa. Selain bisa berupa hobi, minat, keterampilan, dan intelektualitas, memori itu juga bisa berupa pengalaman yang menyakitkan, seperti cara meninggal secara tak terduga dan menyakitkan. Hal inilah yang menimbulkan keluhan atau penyakit yang tak terpecahkan oleh tangan dokter.

Dari sisi ini, terapi PLR punya dimensi spiritualitas yang tinggi. “Selalu ada benang merah yang menghubungkan siapa kita di masa lalu dan saat ini. Ada rangkaian proses akumulatif dari pengalaman-pengalaman terdahulu menuju pada kesempurnaan. Sadar atau tidak sadar, ada evolusi spiritual pada diri manusia.

“Pada tahap-tahap tertentu, kita seperti dibenturkan sebelum menyadari maknanya. Kita menuai apa yang kita tanam. PLR digunakan untuk melihat (masa) yang lalu dan mengoreksi diri apakah yang kita hadapi merupakan karma dulu. Kehidupan yang sekarang menyempurnakan kehidupan yang lalu,” jelas Sumarsono.

Senada dengan Sumarsono, Pamugari Widyastuti menegaskan, PLR membantu menjadikan kehidupan seseorang lebih seimbang, lebih sempurna, dan lebih bersih Kalau sudah tahu arti rangkaian hidup manusia, kita akan menjadi lebih humble dan berserah diri. Manusia memiliki higher self yang menuntut kita di dalam keterpurukan untuk mengasah jiwa,” tutur Ketua Jurusan Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta, ini.


Tanya higher self
Pamugari dan Sumarsono menggunakan teknik relaksasi, agar kliennya mudah memasuki alpha state, di mana otak dalam kondisi istirahat penuh. Saat itu, gelombang otak sangat kondusif untuk menyambung pada rekaman memori masa lampau.


“Kita minta higher self mengajak pada masa lalu yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi seseorang. Orang yang pernah belajar meditasi, reiki, dan sebagainya lebih cepat masuk dan melihatnya. Selain itu, makin muda usia prosesnya makin mudah, apalagi yang percaya pada saya. Saya bisa meregresi secara massal mahasiswa saya. Because they trust me,” aku Pamugari.

Pamugari tidak menggunakan hipnosis, karena ia ingin kliennya ingat apa yang dilihatnya di masa lalu. Ia juga menuntunnya untuk mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan lewat kaset. Menurut dia, dalam terapi PLR klien harus latihan sesering mungkin agar dapat menemukan jalan keluar yang tepat. Karena itu Pramugari mengharapkan, lewat kaset kliennya bisa melakukannya di rumah.

Yang dilakukan Sumarsono pun tidak jauh berbeda dengan Pamugari. Setelah relaksasi, Sumarsono mengajak kliennya untuk membuang pikiran dan merasakan proses sampai mengendap masuk ke alpha state.

“Dalam kondisi itu, roh kita yang dominan, karena raga dan pikiran sudah ‘dibuang'. Pada saat itulah higher s elf kita muncul. Tinggal tanya saja, siapa saya. Nanti, ‘kan, terjadi dialog apa yang harus kita lakukan untuk keluar dari masalah yang kita hadapi. Roh manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengetahuinya. Kita bisa minta dibawa mundur tergantung permintaan. Bisa setiap 100 tahun, atau pada kehidupan di mana rekamannya masih terbawa hingga kini,” papar guru reiki ini.

Jika seseorang gagal, biasanya karena ia tidak berhasil masuk ke alpha state atau tahap hening. “Sebaliknya, jika berhasil memasuki taraf hening, otomatis “film”-nya cepat sekali muncul. Jangan kaget kalau ada gambar-gambar kehidupan kita yang lampau. Setiap orang tidak sama. Jangan berkomentar dulu, terima saja apa adanya. Biarkan itu mengalir.”

Bagi Sumarsono tidak semua kliennya diberi tahu ketika sedang diterapi PLR. Sebab, banyak orang belum bisa menerima dan mempercayai terapi ini, sehingga ia melakukan PLR sendiri tanpa setahu kliennya. Ia punya contoh kasus salah satu kliennya, seorang laki-laki yang kulitnya melepuh.

“Orang ini sudah berobat hingga ke Amerika Serikat. Saya pun berusaha menyembuhkannya dengan reiki dan meditasi. Karena tak kunjung sembuh, saya lakukan PLR. Saya lalu “pergi” sendiri ke alam acashic dan melihat apa yang terjadi sebelumnya pada kliennya, tanpa mengajak si klien. Ternyata di kehidupan yang lalu ia jadi jagal ayam dan kerap merebus ayam dengan air mendidih tanpa berdoa terlebih dahulu. Menghadapi kasus semacam ini, saya berdoa agar karmanya dihilangkan,” ujarnya.

Rekaman memori memang tidak akan hilang, kalau kita tidak menghapusnya. Terapi PLR merupakan salah satu cara untuk menghapus “rekaman” yang tidak dikehendaki pada jiwa manusia.


Sumber : http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0509/16/133555.htm

Dikutip dari http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=874&multi=T&hal=0

Senin, 18 April 2011

Penelitian Menemukan: MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK

Penelitian Menemukan: MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK



Penelitian Menemukan:
MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK


oleh Oleh Marc Kaufman
Staff Penulis di Washington Post
3 Januari 2005

Washington, Amerika Serikat – Penelitian tentang otak manusia dimulai untuk menghasilkan bukti nyata tentang meditasi yang telah dilakukan berabad-abad oleh para praktisi Buddhis: Disiplin Mental dan praktek meditasi bisa mengubah cara kerja otak dan membuat orang bisa mencapai tingkat kewaspadaan yang berbeda.

Keadaan perubahan tersebut secara tradisional telah dimengerti sebagai sesuatu di luar ukuran dunia fisik dan evaluasi obyek. Tapi beberapa tahun belakangan ini, para peneliti di Universitas Wisconsin bekerja sama dengan para bhikkhu Tibet telah berhasil menerjemahkan pengalaman-pengalaman mental tersebut ke dalam bahasa ilmu pengetahuan tentang frekuensi tinggi gelombang Gamma dan keseimbangan otak, atau koordinasi di antaranya. Dan mereka telah menunjukkan dengan tepat bahwa korteks prefrontal kiri yang letaknya tepat di belakang dahi sebelah kiri, adalah tempat dimana terjadi aktivitas otak yang hebat pada saat dihubungkan dengan meditasi.

”Apa yang kami temukan pada orang yang telah lama melakukan praktek meditasi memperlihatkan skala pergerakan otak yang belum pernah kami lihat sebelumnya”, kata Richard Davidson, seorang ahli ilmu otak di Laboratorium W.M. Keck yang baru di Universitas Wisconsin bernilai 10 juta dollar untuk meneliti Fungsi Imajinasi Otak dan Tingkah Laku. “Praktek mental mereka berpengaruh pada otak sama seperti pada latihan golf dan tenis yang akan mempertinggi daya guna otak”. Dia berkata, hal tersebut menunjukkan bahwa otak mampu untuk dilatih dan secara fisik dapat diubah sedemikian rupa seperti yang dapat dibayangkan oleh beberapa orang.

Para ilmuwan dulu percaya kebalikannya – bahwa hubungan-hubungan antar sel urat otak telah terbentuk sejak awal kehidupan dan tidak berubah pada masa kanak-kanak. Tetapi asumsi tersebut tidak terbukti selama 10 tahun yang lalu dengan bantuan imajinasi otak tingkat tinggi dan tehnik-tehnik lainnya, dan dalam tempatnya, para ilmuwan telah merangkum konsep pengembangan otak yang terus menerus dan "neuroplasticity”.

Davidson mengatakan bahwa hasil terbaru dari studi meditasinya yang dipublikasikan di “Cara Kerja Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional” di bulan November, mengambil konsep neuroplasticity satu langkah lebih jauh dengan memperlihatkan bahwa latihan mental via meditasi (dan barangkali cara lainnya) dapat dengan sendirinya mengubah cara kerja di bagian dalam dan di sekeliling otak.

Penemuan-penemuan baru tersebut adalah hasil kolaborasi lama, bila tidak mungkin, antara Davidson dan Dalai Lama Tibet, praktisi Buddhisme terkenal di dunia. Dalai Lama pertama kali mengundang Davidson ke tempat tinggalnya di Dharamsala, India pada tahun 1992 setelah mempelajari riset penemuan Davidson tentang emosi-emosi dari ilmu pengetahuan otak. Orang-orang Tibet mempunyai tradisi meditasi intensif yang telah berabad-abad lamanya dan, sejak mula, Dalai Lama telah tertarik untuk mengajak David dari segi ilmu pengetahuan menggali cara kerja pikiran meditasi dari para bhikkhunya. Dua tahun yang lalu, Dalai Lama menghabiskan dua hari untuk mengunjungi Laboratorium Davidson.

Pada akhirnya Dalai Lama mengirimkan delapan praktisi meditasinya yang ulung ke Laboratorium Davidson untuk dilakukan tes Electroencephalograph (EEG) dan scanning otak pada mereka.

Para praktisi Buddhis dalam eksperimen ini telah melalui latihan meditasi tradisional di Tibet Nyingmapa dan Kagyupa selama kira-kira 10.000 sampai 50.000 jam dalam waktu 15 sampai 40 tahun. Sebagai bahan perbandingan, 10 sukarelawan pelajar yang tidak mempunyai pengalaman meditasi sebelumnya juga di tes setelah mereka latihan meditasi selama 1 minggu.

Pada para bhikkhu dan sukarelawan dipasang sensor listrik sebanyak 256 buah dan diminta untuk bermeditasi dalam jangka waktu pendek. Berpikir dan aktivitas mental lainnya dikenal dapat memproduksi sedikit, tapi dapat dideteksi, aktivitas ledakan-ledakan listrik sebagai sekelompok besar syaraf yang mengirimkan pesan satu sama lain dan di situlah sensor-sensor tersebut diketahui. Davidson sangat berminat terutama dalam mengukur gelombang Gamma, beberapa dari frekuensi tertinggi dan yang paling penting gerak listrik pada otak.

Para bhikkhu dan sukarelawan diminta untuk bermeditasi, secara spesifik pada perasaan haru yang tidak terbatas. Ajaran Buddhis menjelaskan keadaan tersebut sebagai “kesiapan yang bebas dan kemampuan untuk membantu makhluk hidup”, yang mana hal tersebut ada di dalam intisari ajaran Dalai Lama. Para peneliti memilih pemusatan tersebut karena tidak perlu berkonsentrasi pada obyek tertentu, kenangan tertentu atau gambar tertentu dan mengolahnya, bukan merubah bentuk/ keadaan yang sudah ada.

Davidson mengatakan bahwa hasilnya jelas memperlihatkan bahwa meditasi mengaktifkan otak para bhikkhu yang telah terlatih dengan cara yang sangat berbeda dari para sukarelawan. Yang paling penting, gelombang elektroda menangkap pergerakan cepat-pindah yang lebih besar dan gelombang Gamma yang sangat kuat pada para bhikkhu, dan ditemukan pergerakan gelombang melalui otak jauh lebih teratur dan terkoordinasi daripada para pelajar. Pada orang yang baru belajar meditasi menunjukkan hanya sedikit aktivitas gelombang Gamma yang meningkat pada saat bermeditasi, tapi pada beberapa bhikkhu, otaknya memproduksi aktivitas gelombang Gamma yang jauh lebih kuat daripada yang pernah diberitakan sebelumnya pada orang yang sehat, kata Davidson.

Dia menambahkan, pada para Bhikkhu yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bermeditasi, mempunyai tingkat gelombang Gamma tertinggi. “Dosis respon” ini – dimana obat atau aktivitas tingkat tinggi berpengaruh jauh lebih besar daripada di tingkat yang lebih rendah – adalah apa yang dicari oleh para peneliti untuk memperkirakan sebab dan pengaruhnya.

Dalam studi-studi sebelumnya, aktivitas mental seperti pemusatan pikiran, ingatan, belajar, kesadaran dihubungkan dengan semacam koordinasi syaraf yang meningkat ditemukan pada para bhikkhu. Gelombang Gamma yang kuat pada para bhikkhu juga dihubungkan dengan pekerjaan merajut, tidak sama dengan sirkuit otak, dan juga dihubungkan dengan aktivitas mental yang lebih tinggi dan juga meningkatkan kesadaran.

Penelitian Davidson konsisten dengan hasil kerja Davidson sebelumnya yang menunjukkan dengan tepat korteks prefrontal kiri dari bagian otak yang berhubungan dengan kebahagiaan, pemikiran-pemikiran positif dan perasaan-perasaan. Dengan menggunakan Fungsi Magnetic Resonansi Imajinasi (FMRI/ Functional Magnetic Resonance Imagining) pada bhikkhu yang sedang bermeditasi, Davidson menemukan bahwa aktivitas otak mereka – yang diukur dengan EEG – tinggi terutama di area ini.

Kesimpulan Davidson dari penelitian ini bahwa meditasi tidak hanya mengubah cara kerja otak dalam jangka pendek, tapi juga kemungkinan dapat memproduksi perubahan-perubahan secara permanen. Kata Davidson, penemuan itu didasarkan pada fakta bahwa para bhikkhu mempunyai lebih banyak aktivitas gelombang Gamma daripada para pelajar sukarelawan bahkan sebelum mereka mulai bermeditasi. Seorang peneliti di Universitas Massachussets, Jon Kabat-Zinn, juga telah menyimpulkan hal yang serupa beberapa tahun yang lalu.

Para peneliti di Universitas Harvard dan Princeton saat ini sedang melakukan percobaan pada beberapa bhikkhu yang sama dalam beberapa aspek yang berbeda dari praktek meditasi mereka: kemampuan mereka untuk memvisualisasikan gambar-gambar dan kendali dari pikiran mereka. Davidson juga berencana melakukan penelitian lebih lanjut.

“Apa yang kami temukan adalah pikiran atau otak yang terlatih, yang secara fisik berbeda dari otak atau pikiran yang belum terlatih” katanya. Pada saatnya “kami akan mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang pentingnya potensial pelatihan mental semacam ini dan meningkatkan kemungkinan bahwa hal ini akan dilakukan dengan lebih serius”.

Sumber : Meditation Gives Brain a Charge, Study Finds

Diterjemahkan oleh : Lena Handjaja, Jakarta
Editor : Bhikkhu Uttamo

Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/meditasi-memberikan-penyegaran-pada-otak/

Sumber English: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A43006-2005Jan2.html