Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

KANKER ITU LENYAP Oleh Erlina Kang

KANKER ITU LENYAP Oleh Erlina Kang


KANKER ITU LENYAP
Oleh Erlina Kang


Bagi kalangan umat Buddha di Bali, nama Ibu Erlina Kang Adiguna tentunya tidak asing lagi. Di samping aktif melakukan berbagai kegiatan di Vihara Buddha Sakyamuni, beliau juga sibuk mengelola usaha garmennya, "Mama & Leon". Kesuksesan beliau dalam dunia usaha bukan muncul begitu saja, tapi berkat usahanya yang gigih dan pantang menyerah.

Ibu Erlina dilahirkan dalam sebuah keluarga yang cukup mampu di Baturiti, Bedugul,Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Sekarang beliau hidup bahagia bersama suami dan kelima anak, tiga putera dan tiga puterinya. Beliau pernah menderita sakit kanker yang sudah cukup parah dan harus dioperasi, tetapi dengan keyakinannya yang amat besar terhadap Sang Tri Ratna dan tekadnya yang kuat untuk menjadi abdi siswa Sang Bhagava, serta melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh beliau dinyatakan sembuh tanpa melalui operasi.

Inilah kisah sejati beliau yang berjuang dengan gigih untuk mengatasi sakit kanker yang dideritanya.

Awal Mulanya
Pada suatu hari di akhir tahun 1992, saya mendadak mengalami perdarahan yang serius, padahal saya telah menopause sejak dari tahun 1984. Setelah saya periksakan ke dokter di Bali, dokter itu mengatakan ada gejala benjolan di rahim saya, setelah beberapa kali saya berobat ke rumah sakit, saya kemudian tidak memperhatikannya dengan serius.

Pada tahun 1993 saya kembali mengalami sakit perut di sebelah kiri, yang terasa sakit apabila saya jongkok dan sulit untuk berdiri kembali. Akhirnya saya berangkat ke Singapura, bertemu dengan Dokter Wong, di salah satu rumah sakit di sana. Ternyata setelah diperiksa dokter mengatakan saya menderita kanker rahim, hampir stadium tiga. Saya sangat kaget, dokter lalu menganjurkan beberapa saran pengobatan, karena benjolan yang saya derita cukup besar: Sampai pada pemeriksaan yang ketiga kalinya saat saya berobat ke Singapura, Dokter Wong tetap menganjurkan saya untuk segera dioperasi saja.

Akhirnya saya nekat memutuskan untuk tidak mau dioperasi, saya pulang ke Indonesia, dan saya ingin tahu bagaimana risiko kalau orang yang kena kanker itu dikemoterapi. Saya mengunjungi Rumah Sakit Kanker di Jakarta, tidak terbayangkan bahwa penyakit yang saya derita itu sangat mengerikan, setelah saya melihat kenyataan ini, saya memutuskan untuk tidak dioperasi, tidak dikemoterapi, juga tidak makan obat. Saya siap menghadapi kenyataan ini.

Karena pada masa-masa tahun 1994 itu saya banyak sekali memiliki kegiatan dalam pengembangan Dhamma, saya melupakan sakit saya dan tidak henti-hentinya saya melakukan kebajikan dan belajar meditasi, serta mempelajari Dhamma, Ajaran Sang Buddha secara lebih mendalam, untuk menguatkan keyakinan saya bahwa Sang Tri Ratna pasti akan memberikan jalan yang terbaik bagi saya karena saya tidak percaya bisa terkena penyakit kanker, karena dalam keturunan keluarga saya tidak ada yang sakit kanker.

Pada suatu hari saya mendapat telpon dari Dokter Wong, yang mengharuskan saya untuk segera dioperasi, namun saya sudah memutuskan untuk berjuang dengan cara saya sendiri. Sakit saya semakin hari semakin bertambah, muka saya semakin pucat, perut saya semakin kaku, keluarga saya tidak tahu sama sekali, termasuk suami saya.

Kesembuhan

Pada suatu hari saya memutuskan akan bermeditasi secara kontinyu, terus-menerus selama 40 hari, setiap pagi dan sore hari. Saya tidak tahu mengapa saya mempunyai keputusan untuk bermeditasi selama 40 hari. Setiap hari saya membacakan Paritta lengkap mulai dari Namakara Gatha, Karaniya Metta Sutta, Saccakiriya Gatha dan seterusnya sampai diakhiri dengan Ettavatta. Setelah selesai membacakan Paritta Suci, saya selalu meminum tiga cangkir air yang saya persembahkan di Altar. Saya selalu berdoa,mengucapkan kata-kata yang sama, memohon untuk diberkahi jalan yang terbaik, mengucapkan janji dan tekad saya. Dan pada saat saya meminum air, saya selalu berdoa seperti ini:

1. Pertama-tama saya ambil cangkir yang di tengah, saya berdoa di hadapan Sang Bhagava, kalau memang saya harus menghadapi kematian, saya mohon Sang Bhagava memberikan jalan yang terbaik.
2. Lalu saya ambil cangkir air yang di sebelah kiri, saya berdoa; Sang Bhagava kalau saya diberi kesempatan untuk tetap hidup, saya akan bersungguh-sungguh mendalami dan menjalankan Dhamma, Ajaran Sang Bhagava dengan baik.
3. Yang terakhir, saya mengambil cangkir yang di sebelah kanan, saya berdoa; Sang Bhagava kalau saya kini diberi kesempatan untuk tetap hidup, saya akan mengabdi menjadi siswa Sang Bhagava.

Setiap hari dengan tekun saya membaca Paritta Suci, bermeditasi dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

Hingga pada hari yang ke-35, biasanya saya dari duduk untuk berdiri saja sulit, saya harus memegangi perut di sebelah kiri, baru saya bisa berdiri. Tetapi pada hari itu, pada saat bermeditasi saya mendengar sepertinya ada orang yang masuk ke dalam ruangan saya bermeditasi, seperti ada suara injakan kakinya yang sangat keras, dan sepertinya duduk di sebelah saya, suara nafasnya keras sekali, saya benar-benar takut tetapi saya tidak berani membuka mata, saya takut kalau saya sampai melihat orang itu. Beberapa menit kemudian saya mendengar orang itu meninggalkan tempat dan perlahan-lahan saya membuka mata, ternyata orang itu sudah tidak ada lagi. Saya lupa bagaimana caranya saya berdiri pada saat itu, saya lalu ke dapur dan setelah minum saya baru sadar bagaimana ya caranya saya bangun. Saya mencoba kembali duduk dan bangun kembali, saya bisa melakukannya, rasa sakit itu hilang. Saya terus melakukan meditasi selama 40 hari, di dalam hati saya berjanji akan melakukan kebajikan terus menerus dan saya selalu merasa berbahagia, dan saya tidak tahu mengapa, apa saya sudah lupa bahwa saya akan mati.

Sejak hari ke-35 itu, saya selalu bermimpi yang aneh-aneh, tetapi di dalam mimpi saya selalu berhubungan dengan para Bhikku. Di dalam mimpi itu saya naik gunung, sampai di puncak gunung saya terperosok masuk lumpur, dan saya mengucapkan "Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa" ke hadapan Sang Bhagava, dan di bawah gunung, puluhan para Bhikkhu memanggil-manggil nama saya, mendadak ada air bah yang mendorong saya sehingga saya sampai di bawah, saya diberi bungkusan oleh salah seorang Bhikkhu.

Banyak teman-teman saya selalu memimpikan saya selalu bersama para Dewa, dan keajaiban terakhir yang saya dapatkan adalah telepon dari Dokter Wong yang menanyakan keadaan saya, dokter itu menyarankan agar saya mengambil keputusan untuk dioperasi, tetapi rasa sakit di perut saya sudah berkurang, akhirnya saya putuskan untuk memeriksakan kembali penyakit saya di Singapura.

Pada tanggal 20 Februari 1995 saya berangkat bersama suami saya menuju Singapura. Namun ada satu keanehan, sejak saya berangkat ke Airport, saya merasa sangat mengantuk, begitu naik pesawat terbang saya minta kepada suami saya untuk jangan membangunkan pada saat dibagikan makanan. Begitu tidur, saya bermimpi dari Bali ke Singapura saya berjalan di atas lautan, dan di pinggir banyak sekali para Bhikkhu yang berdiri di atas lautan. Begitu mendarat di Singapura, saya dibangunkan dan saya bertanya, saya jalan apa naik pesawat, suami saya menjawab sedikit sewot, tentu saja naik pesawat masak jalan kaki katanya. Tetapi pada sore hari itu saya memutuskan, untuk bertemu dokter esok hari saja.

Pada pagi hari tanggal 22 Februari 1995 saya diperiksa oleh dokter, berkali-kali saya disuruh minum air dan diperiksa berkali-kali, sepertinya dokter itu bingung, komputernya dicek, diperiksa kalau-kalau rusak. Lalu dilihat lagi hasil-hasil pemeriksaan yang dulu; saya diperiksa lagi, kemudian saya dikirim ke Rumah Sakit lain untuk diperiksa lagi oleh satu tim dokter yang terdiri dari 5 orang dokter ahli, memeriksa saya berulang kali, sampai saya teler, kecapaian diperiksa bolak-balik, setelah itu dokter menyatakan sakit kanker saya tidak bisa ditemukan, hanya ada tanda seperti petikan buah anggur. Saya dikembalikan lagi ke Dokter Wong, beliau tidak memeriksa lagi hanya bertanya, agama saya apa, saya bengong, beliau hanya mengucapkan Amitabha dan menyuruh saya berdoa ke Vihara. Saya terkejut dan sungguh bahagia, saya bisa sembuh dari penyakit kanker, tanpa melalui operasi.

Inilah berkah Sang Buddha yang demikian besar kepada saya, sehingga saya benar-benar percaya bahwa karma itu bisa dirubah dengan cara melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh.

Karena itu tumbuhkanlah keyakinan yang kuat kepada Sang Tri Ratna, menjadi siswa Sang Buddha yang baik, melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh, perbanyaklah perbuatan bajik, sucikanlah pikiran.

Saya telah berusaha menjalankan segala kebajikan, dengan materi yang saya miliki, saya pergunakan sebaik-baiknya di dunia ini, agar ada kenangan yang berarti untuk menuju kehidupan yang akan datang.

Semoga pengalaman saya ini menjadi kesaksian nyata untuk dijadikan cermin bagi saudara-saudara se-Dhamma, di dalam memperoleh kebahagiaan dengan melaksanakan Ajaran Sang Guru Agung kita, Sang Buddha Yang Maha Sempurna. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.

Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu...sadhu...sadhu.

Erlina Kang Adiguna

Denpasar, Bali.

Biodata
Nama : Erlina Kang
Tempat/tanggal lahir : Baturiti, Juli 1944
Alamat : Jln. Gunung Lawu Denpasar
Nama Suami : Putu Adiguna
Nama Anak : Liliek Herawati, Putu Agus Antara, Arief Wijaya, Yuliana Kanaya, Cahyadi Adiguna
Jabatan/kegiatan lainnya :

1. Penasehat Forum Ibu-ibu Buddhis
2. Ketua Umum Yayasan Kertha Yadnya
3. Pelindung di Vihara Buddha Sakyamuni
4. Ketua Kehormatan di Vihara Buddha Guna Nusa Dua

Sumber: http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=164&multi=T&hal=0

Minggu, 29 Mei 2011

Bagaimana Meditasi Menyelamatkan Hidup Saya Oleh Michal Levin

Bagaimana Meditasi Menyelamatkan Hidup Saya Oleh Michal Levin




Bagaimana Meditasi Menyelamatkan Hidup Saya
Oleh Michal Levin

Meditasi adalah hal yang sangat misteri, seperti pintu menuju ke realitas lain, realitas yang selalu ada tetapi tidak dapat dilihat. Selama bertahun-tahun saya tidak mengetahui apapun tentang meditasi, dan tidak peduli. Tetapi saat mencari sesuatu yang lain, saya menemukannya secara kebetulan.

Dengan keluarbiasaan dan kekuatan tersembunyinya, meditasi menjadi jalan yang menuntun saya ke dunia yang lebih luas dan dalam - atau ke pencapaian lebih jauh dari dunia ini. Meditasi adalah jalan yang menuntun saya ke dalam diri saya (yang paling dalam). Saya belajar teknik ini saat saya tidak mempunyai pikiran bahwa ini adalah suatu hal yang memungkinan. Saya adalah seseorang yang mampu, peduli, tanggung jawab dan prihatin terhadap orang lain. Saya mengasuh anak-anak saya, mengejar karir saya (sebagai seorang wartawan meliputi peristiwa-peristiwa terkini di televisi), bersedih atas kegagalan pernikahan saya, berteman dengan kawan-kawan, pergi ke pesta-pesta .... dan memasuki jurang batiniah yang dalam sekali. Saya tidak melihat jalan keluar.

Saya melihat sinar yang berada jauh diatas saya, tetapi tidak mengetahui bagaimana mencapainya. Selama berbulan-bulan, ketidakpahaman saya bertambah dalam. Sangat susah mengatakan apa yang salah. Hidup tidak ada artinya. Segalanya tidak cukup, tetapi juga terlalu berat. Saya tidak tahu apa yang saya hendaki. Tidak sabar dan membingungkan seperti seorang anak pemarah.

Suatu sore hari saya memutuskan untuk mencoba meditasi - untuk membuktikan bahwa meditasi tidak cocok buat saya. Malam sepuluh tahun yang lalu itu merubah hidup saya. Realitas lain membuka dan merangkul saya. Pada bulan-bulan berikutnya saya dipaksa mengenali intuitif saya (beberapa memakai kata "psychic" yang tidak saya sukai) dan kemampuan-kemampuan penyembuhan. Saya diajar oleh dunia dalam (diri) - atau apakah merupakan sesuatu di luar saya atau perluasan diri? - guna melihat kualitas yang hanya dapat saya namakan "energi". Selanjutnya saya belajar memahami arti dari apa yang dapat saya lihat. Saya mendapatkan sebuah pemahaman yang lebih dalam dan seringkali berbeda tentang orang-orang, kejadian-kejadian dan dunia. Dan saya juga berubah. Paling penting, saya menemukan sebuah pemahaman dan pengalaman tentang cinta kasih yang mencakup etika-etika, moralitas dan kebenaran.

Meditasi juga membawa sesuatu yang hanya dapat saya namakan "suatu kesadaran". Saya bukan seorang Buddhist, tetapi seorang Lama tinggi Tibet yang pertama kali bersikeras bahwa saya mempunyai suatu anugrah. Orang-orang segera mulai mencari saya untuk konsultasi. Jumlah mereka bertambah dengan cepat. Orang-orang profesional - para ahli psikoterapi, orang-orang busines, para seniman kreatif, guru-guru, para spesialis IT, bahkan para selebriti - juga mereka dari berbagai lingkungan hidup memenuhi buku harian saya, dan membuat daftar tunggu. Sejak itu kemampuan saya memahami dan bekerja dengan energi bertambah terus menerus.
Tiga tahun setelah bekerja sebagai seorang intuitif, saat mengajar satu grup meditasi, saya melihat energi saya sendiri, sesuatu yang jarang terjadi. Saya melihat sebelah kanan tubuh saya seperti gelap, dan daerah tergelap berada di kepala saya. Dari kenyataan yang tertanam mendalam, saya mengetahui bahwa saya dapat menghilangkan warna gelap itu dengan mencurahkan sinar penyembuhan, tetapi warna gelap itu segera kembali. Warna gelap itu pasti sesuatu yang telah berada dalam tubuh saya, dan saya tidak dapat menghilangkannya dengan energi penyembuhan saja.

Saya melihat beberapa dokter alternatif dan ortodoks. Tidak seorangpun dapat menjelaskan kondisi saya atau menemukan ketidak beresan apapun dengan saya. Mereka memberikan penjelasan yang saya ketahui salah: effek dari hepatitis, suatu masalah spiritual, pengisian mercuri, keletihan disebabkan kuman virus.

Saat saya merasakan kematian telah dekat (walaupun tidak seorangpun setuju), suara dalam meditasi saya menunjukkan saya ke tempat kelahiran saya, Afrika Selatan. Suara itu memerintahkan saya mencari dokter di sana yang dikenal sebagai "the rose grower". Saya menemukan dia dan di kantor rumah sakitnya, dokter itu menemukan sesuatu di sebelah kanan otak saya yang dicurigai sebagai tumor. Penemuannya terbukti benar. Saya mempunyai beberapa minggu untuk hidup, paling bagus beberapa bulan.

Segera setelah penemuan itu, tumor itu diangkat di Los Angeles. Hidup saya tertolong, tetapi dengan satu harga. Satu sisi pendengaran saya hilang dan syaraf muka saya terluka parah, dengan semua konsekwensinya: satu mata tidak dapat ditutup, separuh mulut tidak dapat bergerak, kehilangan rasa, dan lebih banyak lagi. Akan tetapi seluruh waktu, meditasi dan realitas (yang saya dapatkan melalui meditasi) membuat saya bertahan. Dalam beberapa bulan berikutnya, kemampuan saya bekerja dalam suatu kapasitas intuitif menjadi lebih kuat.

Tetapi, bentuk kerja saya berubah dan batas pemahaman saya bertambah luas. Beberapa tahun selanjutnya, penyembuhan pada fisik saya mengalamai kemajuan secara perlahan-lahan, terus menerus dan sukses. Tumor saya diangkat dengan pisau bedah, tetapi tidak satu saatpun saya melepaskan praktek spiritual saya. Dengan demikian saya mengalami suatu mujijat, dan terus berlangsung demikian. "Kesadaran" terus menerus menjaga saya melalui saat tergelap dan menyentuh saya. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menunjukkan saya keindahan langit di pagi hari, keindahan jalan sunyi di malam hari, atau kerimbunan rumput liar yang dijumpai di trotoar retak. "Kesadaran" tiada henti membantu saya untuk belajar dan memahami (dengan mengalaminya) bagaimana semua mahkluk adalah bagian dari satu sama lain dan alam semesta. Meditasi adalah awal dari segalanya.

-----------------------------------------------------------------------

Michal Levin tinggal dan bekerja di London, di sana ia memberikan kursus-kursus intuitif dan mengajar grup-grup. Ia juga mengadakan perjalanan jauh setelah dua anaknya dewasa, dan senang menerima undangan-undangan untuk mengajar di mana saja ia diundang. Ia telah menulis tiga buku: The Pool of Memory, The Autobiography of An Unwilling Intuitive (Gill and MacMillan, 1998), yang memperincikan banyak petualangan termasuk kalachakra dengan Yang Mulia Dalai Lama, Spiritual Intelligence (Hodder and Stoughton, 2000), dan Meditation, Path to The Deepest Self (DK, 2002).

Keterangan karyanya lebih lanjut, lihat website: www.MichalLevin.com

Diterjemahkan dari : How Meditation Save My life
Diterbitkan oleh : Majalah "Eastern Horizon", May-August 2002, issue no. 8
Alih bahasa : Jenny, Surabaya

Sumber:http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=165&multi=T&hal=0

Kamis, 26 Mei 2011

Meninggalkan Dhamma = Meninggalkan Kebahagiaan Sendiri

Meninggalkan Dhamma = Meninggalkan Kebahagiaan Sendiri




Meninggalkan Dhamma = Meninggalkan Kebahagiaan Sendiri
Oleh: Irwan Sutejo

Pertama-tama perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Irwan Sutejo dengan nama Buddhis saya Indavadi. Nama Buddhis saya merupakan hasil pemberian Bhante Vijito pada hari raya Waisak tahun 2002.

Terlahir di kota Medan , saya seperti orang-orang keturunan Tionghoa sebelumnya yakni merupakan penganut Agama Buddha tradisi, atau yang lebih dikenal sebagai Agama Buddha KTP. Sejak kecil saya selalu dididik oleh kedua orang tua saya mengenai cara-cara menjalankan tradisi sembahyang dan sebagainya. Agama Buddha KTP yang dimaksud adalah saya masih menjalankan ritual bakar uang-uangan kertas, masih mengambil jimat dikelenteng, dll. Hal tersebut berlangsung terus menerus, bahkan ketika saya sudah menginjak kursi sekolah, pembelajaran mengenai Agama Buddha di sekolah tidak menarik minat saya. Tidak dipungkiri Agama Buddha yang diajarkan saya tidak pernah mencoba mengerti maupun mendalaminya. Hal tersebut sangat mungkin berkaitan dengan kamma saya yang mungkin belum berbuah, sehingga pada saat SD saya benar-benar sangat buta akan Agama Buddha. Satu hal yang membuat saya tahu adalah “dosa”. Banyak sekali cerita maupun terror berupa dosa akan hal buruk yang jika kita perbuat dan juga keyakinan tradisi lainnya.

Meski masa kecil saya tidak berupa sosok yang jahat, tapi yang pasti saya bukanlah sosok yang kenal maupun familiar dengan Agama Buddha. Hal tersebut berlangsung hingga SMP di mana saya semakin menjadi-jadi. Saya diajar oleh seorang guru agama yang sudah mempunyai reputasi buruk di sekolah dan tidak memberikan apa-apa bagi batin saya. Masa SMP adalah masa-masa di mana saya semakin jauh dari yang namanya “Buddha”. Tidak ada agama dalam hidup, meski sekali lagi saya bukanlah sosok yang jahat, cuma ketidaktahuan saya telah membuat saya menjadi buta segalanya. Keadaan mulai berubah saat saya memasuki kursi SMA, saya bertemu seorang guru Agama Buddha aliran Theravada. Tidak tahu apa yang terjadi tapi saya menjadi benar-benar tertarik dengan penjelasan beliau yang bisa diterima dengan akal maupun logika (sejak SD sampai SMP saya diajar oleh guru dengan basic bukan Theravada).

Saya mengenal beliau dengan baik, hal tersebut berimbas pada pengetahuan saya mengenai Agama Buddha. Saya mulai merasakan kesejukkan mengenai Agama Buddha, hingga akhirnya saya bersedia divisudhi untuk pertama kalinya. Saat itu merupakan saat yang paling berbahagia dalam hidup saya, di mana saya mulai merasakan kedamaian akibat ajaran Agama Buddha. Saya bangga akan perbuatan saya baik buruk atau baik, saya berani untuk menerima akibatnya. Saya merasa sebagai sosok yang tidak mencoba mencari perlindungan selain pada perbuatan saya sendiri. Hal tersebut berlanjut hingga saya bersedia mengabdikan diri untuk menjadi pengurus satu-satunya Vihara Theravada di kota Medan yakni: Vihara Mahasampatti. Saya bekerja tanpa pamrih dengan tujuan memajukan Agama Buddha. Akibat dari tekad saya tidak jarang orang tersinggung oleh tindakan saya, tapi tidak pernah saya pedulikan.

Ketika saya mencoba membunuh suatu makhluk hidup saya mulai berpikir akan kondisi yang sama jika terjadi pada diri kita. Ketika saya melihat bunga mekar, batin saya mulai berkata pada saya apa yang diperbuat itulah yang dipetik. Ketenangan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Damai yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya menjadikan saya tidak lagi merasakan ketakutan maupun kegelisahan apapun. Betapapun saya pernah mengagungkan kekerasan tetapi sekarang saya mulai merasa dengan menyakiti orang lain sesungguhnya kita menyakiti diri kita sendiri. Saya mulai berpikir mengenai kondisi tidak kekal, penderitaan, dan tidak adanya ego. Saya tidak terhipnotis dan tidak terbuai oleh yang namanya surga, tetapi semua perbuatan saya lakukan semata-mata untuk kebahagiaan semua makhluk yang ada.

Namun hal tersebut tidak bertahan lama, ketika saya pindah ke Jakarta untuk keperluan pendidikan, perlahan tapi pasti saya mulai berubah kembali. Buddha mulai pudar meski kedamaian yang pernah ada masih berbekas. Syukur pada semuanya ketika kondisi mulai memburuk saya dipinjamkan suatu VCD oleh teman saya yang berjudul Angulimalla. Satu ucapan dari Sang Buddha membuat saya kembali hingga saat ini yakni “Berhenti”. Saya begitu terhanyut ketika Beliau menyatakan ucapan dan kalimat lanjutannya. Saya sadar bahwa saya juga harus “Berhenti”. Akibat dari hal tersebut Agama Buddha tidak pernah dan tidak bakal saya tinggalkan lagi pada kehidupan saya selanjutnya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah berangkat dari agama tradisi, saya kemudian mencoba mencari tahu mengenai Agama Buddha secara sendirian (Ehipassiko), hingga kini saya menjadi sosok yang bahagia karena Dhamma.

Saya tahu banyak pribadi yang mengalami masalah seperti saya, dan juga banyak sekali yang berpindah agama karena hal tertentu. Di sini saya hanya mencoba menyampaikan satu hal yakni cobalah untuk mendekati Sang Buddha dan ajaranNya. Jangan pernah meninggalkan ajaran kesunyataan tersebut karena dengan melakukan hal tersebut kita telah meninggalkan kebahagiaan kita sendiri. Saya bukan sosok yang bisa menghafal semua paritta dan mengerti semua ajaran Dhamma, tapi untuk semua pribadi saya sarankan berpijaklah pada empat pernyataan Sang Buddha yakni:

janganlah berbuat kejahatan,
tambahkanlah kebajikan,
sucikan hati dan pikiran,
inilah inti ajaran para Buddha.

Mungkin cerita saya jauh dari kesan magic. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa semua orang bisa seperti saya apabila mereka berusaha mendekati Buddha dan ajaranNya. Bukalah pintu hati dan pikiran untuk mencoba mencari kebahagiaan dalam ajaranNya, niscaya batin dan kepercayaan tidak akan tergoyahkan.

Semoga cerita saya menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mengalami kesulitan mengenal Agama Buddha dan sedang tergoyahkan batin maupun kepercayaannya. Tidak ada unsur kepalsuan dalam cerita ini dan semuanya berdasarkan pengalaman nyata saya.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Rabu, 15 Desember 2010

Mengapa Saya Memilih Agama Buddha...???


Mengapa Saya Memilih Agama Buddha...???

oleh: Megah Detra 


Tepat tangggal 12 April tiga tahun yang lalu...itulah menjadi hari yang menjadi titik KLIMAKS dalam kehidupan saya....

Tepat 3 tahun yang lalu...MAMA telah meninggalkan kami semua
Seandainya MAMA meninggal karena suatu penyakit...mungkin saya dapat menerima kenyataan yang harus terjadi....tetapi MAMA meninggal bukan kerena itu...
Jujur saya katakan hal ini...MAMA meninggal karena DIBUNUH...ya ditikam secara brutal dengan 8 kali tusukan di tubuhnya....

Sampai sekarangpun saya juga tidak tahu apa motifnya, dan yang pasti PEMBUNUH itu dapat hidup dengan bebas sebab dinyatakan GILA oleh pihak yang berwajib....
PROTES dong....jelas saya protes...tetapi itulah hukum yang berlaku di negara kita, orang gila tidak dapat dituntut...sebuah HUKUM yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara...
Itulah sekilas kisah dan saya mohon agar jangan diungkit-ungkit lagi....PLEASE....
Sebagai seorang anak satu-satunya...saya pun sempat down waktu itu
Dalam OTAK saya hanya ada pertanyaan : MENGAPA INI HARUS TERJADI..?

Saya pun protes kepada Tuhan : TUHAN...mengapa Kau tidak bersikap adil ??? Orang baik seperti MAMA harus mati dgn cara yg mengenaskan sedangkan orang jahat seperti PEMBUNUH dapat bebas berkeliaran....MANA RASA ADILMU ITU...?????

Ketika pada malam hari banyak pelayat yg datang...ada seseorang yang memberi saya sebuah buku kecil yang berjudul SUTRA BHAKTI SEORANG ANAK.
Awal mulanya saya bersikap cuek, saya pikir apa artinya buku saku ini...
Lama-lama saya penasaran juga....
Akhirnya saya buka dan saya baca...semakin saya baca, semakin membuat saya tertarik...
Akhirnya saya pun menangis...ya menangis seperti anak kecil...

Ternyata selama 30 tahun lebih saya belum pernah sekalipun membahagiaakan ORANG TUA...
Sungguh apa yang saya tulis ini adalah benar adanya...buku itu membuka mata bathin saya yang selama ini tertutup oleh kesenangan dunia, tanpa sekalipun ingat akan betapa besar pengorbanan orang tua kepada seorang anak tunggalnya...

Saya merasa berdosa...oh itu pasti
Saya merasa bersalah...oh itu tentu
Tetapi apa gunanya...nasi sudah menjadi bubur
MAMA tidak mungkin hidup lagi untuk menerima permintaan maaf dari anaknya yang durhaka...
Akhirnya saya mulai mencari kebenaran yang muncul dalam pikiran saya...
Benarkah TUHAN ITU ADIL ????

Semua orang yang saya tanya memberi jawaban yang sama..."Sudahlah yang sabar aja itu semua sudah nasib jadi harus terjadi seperti ini"
Mana keadilanmu itu TUHAN ???

Bila itu memang suratan nasib berarti semua seperti film saja dan TUHAN bertindak sebagai sutradaranya...PEMBUNUH itu telah diatur sedemikian rupa oleh TUHAN sehingga ia melakukan pembunuhan...berarti PEMBUNUH itu telah menjalankan skenario Tuhan dengan sangat baik dan seharusnya ia mendapat hadiah atas itu.Tetapi Tuhan pernah bersabda JANGAN MEMBUNUH...bukankah ini dua sisi yang saling bertentangan : di satu sisi Ia menjalankan skenario Tuhan sedang di sisi yang lain Ia melanggar perintah Tuhan...

Saya terus merenungkan hal itu...
Sampai suatu saat saya bertemu dgn MR. X yang akhirnya memberitahu saya kenapa itu dapat terjadi...
yaitu adanya HUKUM KARMA, panjang lebar MR. X menjelaskan kepada saya tentang Hukum Karma, termasuk bagaimana prosesnya yang mungkin tidak dapat saya tulis sebab terlalu panjang untuk diceritakan ( mungkin saya akan buat catatan tersendiri)

Sejak itulah saya aktif membaca buku-buku yang berhubungan dengan kematian dan hukum karma serta apa korelasinya dalam kehidupan ini.

Setelah saya membaca dan berusaha memahami, ada satu hal lagi yang menjadi beban bagi saya yaitu apakah tidak ada jalan lain bagi saya untuk membalas semua kebaikan MAMA...melalui MR. X jugalah saya mengenal apa itu PELIMPAHAN JASA.

Maka sejak itulah saya bertekad untuk merubah kehidupan saya, karena saya sadar bahwa kehidupan itu tidak pasti tetapi kematian itu pasti dan saya sendiri juga tidak dapat mengetahui sampai kapan kehidupan yang harus saya jalani.

Prinsip EHIPASSIKO cukup membuat saya mengerti...datang, lihat dan buktikan !!!
Jangan percaya apapun sebelum kamu membuktikan kebenarannya termasuk yang ada di kitab suci termasuk sutta Sang Buddha sendiri...jika itu memang tidak terdapat dalam segala aspek kehidupan ini, sebab Dhamma tidak akan pernah lapuk oleh waktu.

Saya memilih agama Buddha sebab tidak menjanjikan kebahagian dalam hidup saya, tetapi menunjukkan jalan pada saya bagaimana mengatasi penderitaan...dan itu semua adalah tergantung dari diri kita sendiri...

Demikianlah akhirnya saya dapat menjelaskan pada semua teman-teman yang bertanya kepada saya mengapa saya harus memilih agama Buddha. Catatan ini saya buat tanpa adanya usaha untuk menjelekkan agama lain dan juga tanpa adanya unsur untuk mempengaruhi semua teman-teman untuk mengikuti saya...ini adalah suara hati saya sendiri.

Mohon maaf apabila ada yang tersinggung maupun tidak suka akan catatan saya ini....sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Dan untuk MR. X...saya ucapkan banyak terima kasih karena telah membimbing saya selama ini....bila pada kehidupan ini saya masih belum dapat membalasnya, biarlah saya diberi kesempatan untuk membalasnya di kehidupan mendatang.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia...

Sadhu..sadhu..sadhu..

_/\_ 

(Diceritakan langsung oleh Sdr. Megah Detra )

Sumber: http://www.facebook.com/notes/megah-detra/apa-kita-telah-melanggar-sila/10150172474985368#!/note.php?note_id=10150167447655368&comments

Kamis, 25 November 2010

Lakukanlah Dengan TUlus


Lakukanlah Dengan TUlus
Dituturkan langsung oleh Trinita, Pekan Baru

Saya baru saja pindah ke Pekan Baru dan tinggal di komplek ini tepatnya tanggal 28 Februari yang lalu. Sore harinya, ada tetanggaku yang mampir dan menanyakan tentang kursus bahasa Inggris, biaya, kurikulum dan lainnya (karena aku memang membuka kursus bahasa Inggris di sini). Ia juga sempat bercerita tentang adiknya yang mendapat beasiswa sekolah di Jepang. Dari obrolan kami itu, aku tahu bahwa tetangga baruku itu adalah seorang ibu rumah tangga yang seperti ibu-ibu lainnya menginginkan anaknya rajin belajar dan menjadi orang sukses kelak. Ia mendisiplinkan anaknya untuk mengerjakan PR dan mengulangi pelajaran di sekolah setiap hari. Ia juga membawa pulang brosur, katanya untuk dibagikan kepada teman-teman yang ketemu saat sama-sama menemput anak di sekolah.

Setelah beberapa hari aku tak pernah melihatnya lagi, lalu iseng-iseng aku jalan-jalan ke rumahnya, hitung-hitung mengenal lingkungan di sinilah. Saat aku tiba di rumahnya, dengan tidak segan-segan ia menceritakan kondisi ekonomi keluarganya yang lagi agak surut. Hati nuraniku tersentuh dan secara spontan aku mengatakan bahwa kedua anaknya boleh les dulu, tentang uang buku dan uang les jangan dipikirkan. Yang ada dalam benakku saat itu adalah, sayang sekali jika ada anak yang ingin belajar tapi orang-tuanya tidak mampu, sementara di sisi lain, banyak anak yang menghambur-hamburkan uang orang-tuanya, tidak mau belajar dengan baik.

Akhirnya ia setuju dan anaknya menjadi salah satu murid pertamaku pada tanggal 12 Maret lalu. Aku bahagia sekali, bisa membantu orang lain, dan aku berjanji suatu hari nanti, jika aku mampu, aku akan membuka tempat kursus yang gratis bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Alangkah kagetnya aku, sejak hari itu, setiap sore tetanggaku itu membawakan makanan untukku, katanya daripada aku harus mengeluarkan uang lagi untuk makan malam. Ini sama sekali di luar dugaanku, dan aku menolak dengan cara halus, karena aku takut akan menambah pengeluaran untuk uang belanja mereka sehari-hari. Tapi ia ngotot ingin membalas kebaikanku, ia juga membantu menyebarkan brosur di setiap rumah di sekitar tempat tinggalku. Berkat dukungannya, dilihat dari usia tempat kursusku yang baru setengah bulan, kini jumlah muridku terhitung lumayan banyak lho.

Yang lebih herannya lagi, seminggu lalu, ketika aku mengantarkan anaknya dan menanyakan di mana tempat fotocopy yang terdekat, adiknya yang mendengar pertanyaanku langsung menghidupkan mesin sepeda motornya dan ingin menjemput kertas yang akan dicopy. Aku jadi terheran-heran, jaman sekarang ini dimana ada anak muda yang begitu ringan tangan membantu orang, biasanya adik kita sendiri saja sulit untuk dimintai tolong.

Begitulah tetangga yang sampai saat ini belum kuketahui namanya itu selalu membantu setiap kesulitan yang kuhadapi dan ia juga selalu mendoakan kesuksesanku. Kami baru saja kenal, tapi sudah seperti kaka-adik, katanya ini semua berawal dari hatinya yang tergugah menerima uluran tanganku, sedangkan aku tak pernah merasa telah mengulurkan tangan. Aku hanya ingin melihat kesuksesan pendidikan di Indonesia terulang kembali, seperti waktu itu, di mana orang-orang dari negara tetangga bangga belajar di universitas di Indonesia, bahkan kita juga pernah export guru. Sebaliknya, sekarang kita malah berlomba-lomba untuk bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri, sungguh suatu kemerosotan yang menyedihkan.

Demikianlah yang kualami, semoga setiap bantuan yang kita berikan dilandasi cinta kasih dan tanpa pamrih sebagaimana yang diajarkan oleh guru agung kita, Sakyamuni Buddha. Semoga hal ini akan membawa kebahagiaan bagi kita dan orang yang dibantu.

Senin, 01 November 2010

Agama Buddha yang saya kenal

Agama Buddha yang saya kenal

 Oleh Mahendradatta Jayadi

Sejak kecil, saya bersekolah yang bersifat non-buddhis dan mengikuti pelajaran agama non-Buddhis. Seharusnya dengan mengikuti sekolah non-Buddhis, saya menjadi non-Buddhis, sebagaimana yang terjadi pada teman-teman sekolahku. Tetapi, selama dua belas tahun saya merasa tidak sreg dengan ajaran tersebut. Saya mulai berkenalan dengan agama Buddha sewaktu kuliah di Universitas Indonesia, saya mulai mendapatkan teman-teman se-Dhamma dan belajar mengikuti kebaktian dan membaca paritta untuk pertama kalinya. Banyak teman yang menanyakan, kok Anda bisa bertahan selama 12 tahun tanpa pindah agama, sedangkan teman-temanmu banyak yang pindah. Mungkin karma yang pernah saya perbuat pada kehidupan yang lampau membuat saya tetap memeluk agama Buddha.

Selama dua belas tahun, saya mempelajari bahwa manusia tersebut hanyalah objek. Dengan mempercayai "God" mereka akan diselamatkan dan masuk ke surga. Masa kecil saya susah. Sedangkan dalam masyarakat luar saya melihat banyak yang hidup mewah dan kaya, apalagi di SMA saya bersekolah. Apakah ini takdir yang harus diterima? Apakah manusia hanya dapat berpasrah pada rencana "God"?

Saya seringkali mempertanyakan ketidaksamaan (inequality) dalam kehidupan ini pada saat mengikuti kegiatan retreat sewaktu sekolah. Para pembimbing tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Itu semua merupakan rencana besar, katanya. Saya pun meragukannya, kenapa saya ditakdirkan menjadi seorang yang kalah (loser), sementara yang lain hidup enak dan berfoya-foya.

Ajaran Buddha adalah ajaran manusia, bagaimana manusia bertingkah laku dan melakoni hidup ini dengan benar; bagaimana memperlakukan pasangan hidup, orang tua, teman dan masyarakat. Inilah keindahan ajaran Buddha. Semua orang dapat mencapai kebahagiaan berdasarkan perilaku mereka sendiri. Tidak ada bantuan dari supranatural being. Setiap manusia dengan usahanya sendiri dapat mencapai ke-buddha-an dan Nibbana.

Sebagai mahasiswa yang mendalami sains, saya sangat memperhatikan hukum sebab akibat dalam alam semesta. Hal ini selaras dengan hukum karma dalam agama Buddha. Hukum alam yang pasti akan berlaku dan bersifat universal. Siapa berbuat, dialah yang akan menuai hasil perbuatannya. Tak seorang pun yang dapat menghapuskan karma buruk, kecuali karma baik yang dilakukannya. Inilah inti ajaran Buddha yang membuat saya tertarik mempelajari agama Buddha selanjutnya. Suatu penjelasan yang masuk akal dan dapat dinalar.

Selama bertahun-tahun saya mempelajari agama Buddha, ajarannya selalu berpusat pada manusia. Tidak pernah menceritakan peranan "makhluk adikodrati" yang akan menyelamatkan manusia dan menghapus semua karma buruk. Manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Agama Buddha tidak pernah mengiming-imingi akan kehidupan yang bahagia. Inilah penyebab agama Buddha kurang diminati oleh umat yang menginginkan jalan pintas dan keluar dari permasalahan duniawi.

Ajaran Buddha bersifat ehipassiko, saya datang, saya lihat dan saya buktikan. Jika tidak berkenan di hati saya, saya dapat meninggalkannya. Konsep ini membuat ajaran Buddha ini terbuka dan dapat berdialog dengan doktrin-doktrin agama lainnya. Ajaran Buddha menjadi tidak dogmatis dan bisa diperdebatkan kebenaran dan kesahihannya. Diharapkan pandangan terang (samma-dithi) akan muncul setelah berdialog dengan ajaran Buddha.

Seringkali saya mendengar pernyataan skeptis, agama Buddha menyembah berhala. Inilah dogma yang bersifat peyoratif dan memojokkan umat Buddha. Umat non-Buddhis seringkali mencampuradukkan ajaran Buddha dan kepercayaan tradisional (kepercayaan Tionghoa dan kepercayaan Jawa), dimana pemujaan kepada dewa diwujudkan dalam bentuk patung. Umat Buddha menggunakan Buddharupam (patung Buddha) untuk membangun citra Buddha dan penghormatan dalam puja bakti. Sayangnya, umat Buddha sendiri kurang memiliki pengetahuan dalam menjawabnya. Inilah kelemahan yang membuat umat Buddha pindah agama. Untunglah di alam reformasi ini, membicarakan agama Buddha bisa lebih terbuka, persamaan dan perbedaan doktrin tidak perlu ditutup-tutupi. Saya mengimpikan, bahwa akan muncul cendekiawan Buddha yang kritis akan agamanya dan doktrinnya.

Komentar negatif lainnya: Umat Buddha tidak punya kitab suci. Jika ada, mana buktinya, kok tidak dibawa-bawa. Komentar ini agak sulit disanggah. Umat Buddha memiliki kitab suci Tipitaka (yang dilestarikan dengan lengkap dalam bahasa Pali), dan jauh lebih tebal daripada kitab suci lainnya. Fakta menunjukkan, belum ada kitab suci Tipitaka yang lengkap dalam bahasa Indonesia. Umat Buddha Indonesia kebanyakan memiliki Dhammapada dan potongan-potongan terjemahan Tipitaka. Di sini, mampu menunjukkan kitab suci merupakan bukti fisik pengalaman religi dan legitimasi sebagai umat beragama. Di negara Barat, negara tidak mencampuri kehidupan beragama warganegaranya.

Dalam agama Buddha, perwujudan religi dengan cara perayaan tidaklah terlalu digembar-gemborkan. Mempraktikkan ajaran Buddha adalah yang termulia. Mungkin inilah penyebab timbulnya istilah "agama Buddha KTP" karena umat Buddha jarang muncul di vihara atau cetiya. Di Indonesia, perwujudan religi dengan melakukan ritual dalam tempat ibadah adalah penting untuk menunjukkan eksistensi umatnya. Pertanyaan seperti, "Anda beribadah dimana?" merupakan pertanyaan umum dan seringkali diajukan. Padahal, masalah agama merupakan masalah pribadi dan keyakinan (saddha) seharusnya tidak dipertanyakan di depan publik.

Meskipun banyak serangan akan ajaran Buddha, saya tetap berpegang teguh pada ajaran Buddha. Ajaran Buddha akan semakin indah jika dipelajari dan dikaji terus menerus. Boleh juga diperdebatkan selama Dhamma tersebut memperkaya jiwa umatnya. Dhamma itu indah pada awalnya, pada pertengahan dan pada akhirnya. Saya akan berpegang teguh pada Dhamma. Sadhu, sadhu, sadhu.

Surabaya, Februari 2000