Tampilkan postingan dengan label Mengapa Buddhis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengapa Buddhis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2010

7 Keunggulan Ajaran Buddha




7 Keunggulan Ajaran Buddha



Buddha diagungkan bukan karena kekayaan, keindahan, atau lainnya. Beliau diagungkan karena kebaikan, kebijaksanaan, dan pencerahanNya. Inilah alasan mengapa kita, seorang Buddhis, menganggap ajaran Buddha sebagai jalan hidup tertinggi.

Apa sajakah keunggulan-keunggulan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran Buddha?

1. Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta

Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu kepercayaan. Seseorang baik atau jahat karena perbuatannya. Dengan berbuat jahat, seseorang menjadi jahat, dan dengan berbuat baik, seseorang menjadi baik. Setiap orang, apakah ia raja, orang miskin atau pun orang kaya, bisa masuk surga atau neraka, atau mencapai Nibbana, dan hal itu bukan karena kelas atau pun kepercayaannya.

2. Ajaran Buddha mengajarkan belas kasih yang universal

Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada semua makhluk tanpa kecuali. Terhadap manusia, janganlah membedakan bangsa. Terhadap hewan, janganlah membedakan jenisnya. Metta harus dipancarkan kepada semua hewan termasuk yang terkecil seperti serangga.

3. Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya

Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu. Buddha bahkan menyarankan, “Jangan percaya apa yang Kukatakan kepadamu sampai kamu mengkaji dengan kebijaksanaanmu sendiri secara cermat dan teliti apa yang Kukatakan.” Ajaran Buddha tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dan kritik-kritik terhadap ajaranNya. Jelaslah bagi kita bahwa ajaran Buddha memberikan kemerdekaan atau kebebasan berpikir.

4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung

Buddha bersabda, “Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri. Siapa lagi yang menjadi pelindungmu? Bagi orang yang telah berlatih dengan sempurna, maka dia telah mencapai perlindungan terbaik.”

Ini bisa dibandingkan dengan pepatah bahasa Inggris, “God helps those who help themselves” –Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Inilah ajaran Buddha yang menyebabkan umat Buddha mencintai kebebasan dan kemerdekaan, dan menentang segala bentuk perbudakan dan penjajahan.

Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka atau pun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin. Seperti tertulis dalam Dhammapada, “Semua Buddha, termasuk Saya, hanyalah penunjuk jalan.” Pilihan untuk mengikuti jalanNya atau tidak, tergantung pada orang yang bersangkutan.

5. Ajaran Buddha adalah ajaran yang suci

Yang dimaksudkan di sini adalah ajaran tanpa pertumpahan darah.

Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun –ajaran Buddha tidak pernah menyebabkan peperangan. Bahkan, Buddha sendiri melarang penyebaran ajaranNya melalui senjata dan kekerasan.

6. Ajaran Buddha adalah ajaran yang damai dan tanpa monopoli kedudukan

Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, “Seseorang yang membuang pikiran untuk menaklukkan orang lain akan merasakan kedamaian.” Pada saat yang sama, Beliau memuji upaya menaklukkan diri sendiri. Beliau berkata, “Seseorang yang menaklukkan ribuan orang dalam perang bukanlah penakluk sejati. Tetapi seseorang yang hanya menaklukkan seorang saja yaitu dirinya sendiri, dialah pemenang tertinggi.”

Di sini, menaklukkan diri sendiri terletak pada bagaimana mengatasi kilesa (kekotoran batin). Andaikan semua orang menjadi umat Buddha, maka diharapkan manusia akan beroleh perdamaian dan kebahagiaan. Buddha mengatakan bahwa semua makhluk harus dianggap sebagai sahabat atau saudara dalam kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Beliau juga mengajarkan semua umat Buddha untuk tidak menjadi musuh orang-orang tidak satu keyakinan atau pun menganggap mereka sebagai orang yang berdosa. Beliau mengatakan bahwa siapa saja yang hidup dengan benar, tak peduli kepercayaan apapun yang dianutnya, mempunyai harapan yang sama untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, siapapun yang menganut ajaran Buddha tetapi tidak mempraktikkannya, hanya akan memperoleh sedikit harapan akan pembebasan dan kebahagiaan.

Dalam ajaran Buddha, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan kata lain, setiap orang dapat mencapai Kebuddhaan.

7. Ajaran Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat

Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Tiada suatu apapun yang muncul tanpa alasan.

Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan, celaan, penderitaan –semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.

Akibat-akibat baik muncul dari keadaan-keadaan yang baik, dan akibat buruk muncul dari penyebab-penyebab buruk pula. Kita sendiri yang menyebabkan keberuntungan dan ketidakberuntungan kita sendiri. Tidak ada Tuhan atau siapapun yang dapat melakukannya untuk kita. Oleh karena itu, kita harus mencari keberuntungan kita sendiri, bukan membuang-buang waktu menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Jika seseorang mengharapkan kebaikan, maka dia hanya akan berbuat kebaikan dan berusaha menghindari pikiran dan perbuatan jahat.

Prinsip-prinsip sebab dan akibat; suatu kondisi yang pada mulanya sebagai akibat akan menjadi sebab dari kondisi yang lain, dan seterusnya seperti mata rantai. Prinsip ini sejalan dengan pengetahuan modern yang membuat ajaran Buddha tidak ketinggalan zaman daripada kepercayaan-kepercayaan lain di dunia.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=352944941010&id=315488630071

Kamis, 02 Desember 2010

11.000 Orang Alihkeyakinan Jadi Buddhis





11.000 Orang Alihkeyakinan Jadi Buddhis

Saturday, January 30, 2010

India, Express News Service --
Hampir 11.000 orang, termasuk mereka yang berasal dari komunitas Koli dan Kshatriya serta keluarga-keluarga Kristiani, memeluk Buddhisme pada sebuah kegiatan di Saijpur Bogha pada hari Minggu (24/1).

Para bhikkhu dari Bhante Pragnyasheel mengusahakan iklar (visudhi – red) untuk para pengalihkeyakinan baru. Namun pejabat wilayah Ahmedabad mengatakan bahwa tidak ada pengalihkeyakinan yang efektif sampai perijinan resmi dikeluarkan.

“Lima keluarga Hindu Dalit yang pertama-tama beralihkeyakinan kepada Kekristenan juga beralihkeyakinan kepada Buddhisme pada kegiatan tersebut,” kata Balkrishna Anand, penyelenggara dari Bauddh Dhamma Deeksha Angikar Abhiyan (Gujarat). “Kami sudah bekerja pada acara ini untuk beberapa bulan yang lalu, mengunjungi beberapa wilayah dan melakukan pertemuan untuk memobilisasi orang-orang,” katanya menambahkan bahwa keseluruhan ada 350 pertemuan yang diadakan untuk menyebarkan pesan ke seluruh negeri.

Menetapkan bahwa hampir 11.000 orang beralihkeyakinan kepada Buddhisme pada kegiatan tersebut, Anand mengatakan bahwa para pengalihkeyakinan baru telah datang dari berbagai tempat jauh seperti Patan, Surendranagar, Rajkot, Vadodara, Junagadh dan Mehsana. Pemimpin Buddhis terkemuka Kalpana Saroj merupakan tamu utama pada kegiatan yang dipimpin oleh lima orang bhikkhu dari berbagai tempat di negara itu.

Sumber: http://www.bhagavant.com/home.php?link=news&n_id=207

Minggu, 28 November 2010

Makin Banyak Orang Asing Belajar Abhidhamma



Makin Banyak Orang Asing Belajar Abhidhamma
Thursday, March 11, 2010

Birma, Xinhua News --

Semakin banyak orang asing yang mempelajari Abhidhamma di International Institute of Abhidhamma (IIA) atau Institusi Abhidhamma Internasional di Birma setelah kursus agama berbahasa Inggris diperkenalkan, demikian narasumber dari institusi tersebut mengatakannya pada Selasa (9/3).

Hampir tiga puluhan peserta pelatihan dari Vietnam, Thailand, India, Kamboja, Laos, Bangladesh, Amerika Serikat, Perancis dan Denmark hadir di IIA, meningkat dari tahun lalu, kata narasumber.


IIA didirikan pada Juni 2007, telah diakui sebagai bagian dari anggota Association of Theravada Buddhist Universities (Asosiasi Universitas Buddhis Theravada) pada Maret tahun lalu.


Birma merupakan sebuah negara dengan mayoritas populasinya (sekitar 80 persen) beragama Buddha. Dalam negara ini diperkirakan ada lebih dari 420.000 bhikkhu dan lebih dari 60.000 biarawati dalam sembilan aliran yang telah dipersatukan pada beragam tingkatan di bawah kepemimpinan komisi keagamaan pemerintah.


Hampir 1.000 tahun, Birma memagang Buddhisme Theravada secara murni dan utuh. Pusat-pusat pembelajaran literatur Buddhis dan sekolah-sekolah pendidikan kebiaraan lainnya telah didirikan di sini sejak lama.


Ada lima universitas dan institusi Buddhis Theravada di Birma.


Sumber:
http://www.bhagavant.com/home.php?link=news&n_id=213

Sabtu, 27 November 2010

Kebangkitan Buddhisme di Selandia Baru

Kebangkitan Buddhisme di Selandia Baru

Saturday, January 23, 2010

Selandia Baru, Voxy News Engine --
Apakah yang terjadi ketika dua agama dan dua pandangan dunia bertubrukan?

Itulah pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Hung Kemp sarjana lulusan Universitas Victoria melalui penelitian yang berfokus pada bagaimana dan mengapa warga Selandia Baru beralihkeyakinan ke Buddhisme.

“Buddhisme mendapatkan perhatian di Selandia Baru, jadi ketertarikan saya adalah dalam hal apa yang membuat warga Selandia Baru menjadi seorang Buddhis dan beragam jalan yang mereka ambil sebagai perjalanan mereka menuju dan memeluk Buddhism,” kata Mr. Kemp.

Sebagai bagian dari penelitian gelar PhD-nya, ia juga berfokus pada pembangunan identitas mereka yang beralihkeyakinan menjadi Buddhis bagi diri mereka sendiri sebagai warga Selandia Baru.

Mr. Kemp mewawancarai sekitar 70 orang Buddhis baru dari seluruh Selandia Baru dan menghadiri 27 acara-acara dan pertemuan-pertemuan Buddhis. Wawancaranya menelusuri empat faktor hubungan antara: praktik dan ritual, kedirian, keyakinan dan keterlibatan.

“Hal ini pada dasarnya sebuah perhitungan sosiologi kualitatif yang melacak mengapa warga Selandia Baru mengambil praktik Buddhisme dan bagaimana mereka melanjutkan untuk mencari pengertian, terutama dalam praktik, ritual, dan keterlibatan berkesinambungan.”

Meskipun Mr. Kemp mengatakan bahwa ia terkejut dengan jumlah warga Selandia Baru yang beralihkeyakinan tidaklah meningkat sebanyak yang ia kira, atau sebanyak kecenderungan yang ditunjukkan di luar negeri, Buddhisme tetap menjadi sebuah agama yang populer di sini.

“Hal ini berdasarkan pada beberapa jumlah faktor – meningkatnya profil Dalai Lama, hubungan dekat Selandia Baru dengan Asia dan fakta bahwa kami cukup terbuka terhadap agama-agama baru dan memiliki sejarah dalam Selandia Baru akan orang-orang yang bereksperimen dengan agama-agama baru.”

Mr. Kemp, yang juga memiliki sebuah gelar Masters of Theology, mengatakan kisah-kisah yang diwawancarakan berada dalam narasi sejarah sosial Arkadia.

“Jika Selandia Baru adalah Arkadia – bersih, hijau, 100% murni dan tempat yang ideal untuk ditempati – maka dapat dipahami sebagai sebuah Tanah Suci Buddhis. Arkadia dan Tanah Suci datang bersama-sama dalam pengertian “tempat tinggal”, menawarkan sebuah peran baru imajinasi bagi para praktisi Buddhis.” Secara keseluruhan, ia mengatakan bahwa penelitiannya mengindikasikan bahwa para pengalihkeyakinan baru secara penuh percaya bahwa Selandia Baru adalah sebuah tempat yang baik untuk mempraktikkan Buddhisme.

“Buddhis di Selandia Baru mengatakan bahwa mereka akan melanjutkan untuk membentuk identitas mereka sendiri dan menemukan sebuah turangawaewae atau tempat identitas untuk berpijak.”

Salah satu pembimbing Mr. Kemp, Profesor Paul Morris mengatakan, ”Karya perintis Dr. Kemp yang merupakan studi sistematik pertama atas warga Selandia Baru yang menjadi seorang Buddhis, memberitahukan kepada kita baik mengenai agama dan spiritualitas dalam negara kita dan pengejewantahan khusus dari Buddhisme di sini.” Mr. Kemp lulus dengan gelar PhD bidang Studi Keagamaan dan beharap untuk mengajar studi Keagamaan atau Asia. Pembimbingnya adalah Dr Rick Weiss dan Profesor Paul Morris.

Sumber: http://www.bhagavant.com/home.php?link=news&n_id=206